Algojo

Algojo

Peluhku menetes perlahan. Tubuhku gemetar tak karuan. Nafasku memburu.

Dadaku sesak, seakan tak ada oksigen yang masuk ke paru – paru.

Inikah sensasi setelah membunuh? Mengambil nyawa sesuka hati layaknya Grim Reaper?

Ini kali pertamaku melakukannya. Tak heran apabila sikapku menjadi sedemikian rupa. Tak seperti rekan – rekanku lainnya yang bertubuh tegap dan kekar. Mereka mampu mengeksekusi makhluk – makhluk tak berdosa itu dengan muka datar.

Sepertinya mereka yang telah lama menggeluti bidang ini sangat profesional. Dihabisinya korban tanpa rasa sesal. Mereka tak peduli akan seruan – seruan lirih para tawanan. Yang penting, pekerjaan mereka terselesaikan.

Kucoba fokus kembali pada tugasku. Perlahan namun pasti, kugorok leher korban di depanku. Darah segar mengalir deras, diikuti dengan bau anyirnya yang semakin menegas.

Langkah selanjutnya, kukuliti dia bersama rekanku yang satu lagi. Ketelatenan sangat diperlukan disini. Lanjut menguras organ – organnya, yang harus dilakukan dengan hati – hati.

Lama – kelamaan, pekerjaan ini membuatku mual dan pusing. Kepalaku pening. Tak tahan lagi, kuberanikan bertanya pada Jono, ketua organisasi kami.

“Kang, kambing yang harus disembelih kurang berapa ekor lagi?”