Home Cerita Hantu, CreepyPasta Indonesia Apakah Kami Masih Bertujuh?
Cerita HantuCreepyPasta Indonesia

Apakah Kami Masih Bertujuh?

Desa dimana tempat aku tinggal sedang dilanda rumor maling, malam hari menjadi sangat rawan karena pada jam segitu lah biasanya maling beroperasi. Anehnya, maling tersebut selalu menjarah rumah yang saling berdekatan, misalnya saja malam ini rumah nomor 1 kemalingan, dan esoknya, rumah nomor 2 yang selanjutnya menjadi target, begitu seterusnya.

Namun disini aku bukan bercerita tentang aksi maling tersebut, tapi aku akan bercerita bagaimana peristiwa yang menimpaku dan teman-temanku yang saat itu mendapat tugas ronda malam untuk mengamankan desa dari terror maling tersebut.

Namun sialnya, kami mendapatkan tugas ronda itu tepat pada malam Jum’at Kliwon. Saat itu desa masih minim penerangan, maka tak heran jika aku dan teman-temanku sudah biasa main ditempat gelap hingga kami menganggap itu hal biasa. Tapi tidak setelah peristiwa ini.

Pada malam kami bertugas ronda, salah satu temanku memberikan usul bagaimana jika kami menakut-nakuti maling tersebut dengan menyamar menjadi setan. Kami pun menyutujuinya, dengan bermodalkan sprei putih dan tali raffia, kami pun memilih setan pocong sebagai penyamarannya.

Di desa kami kebetulan hanya punya 2 akses jalan utama, yaitu jalan masuk dan jalan keluar Desa. Aku dan teman-teman sepakat bahwa tidak mungkin si maling tersebut menerobos dua jalan tersebut, karena tak mungkin ia berani masuk lewat jalan yang terbuka macam itu. Lalu kami putuskan untuk menunggu maling tersebut di area pesawahan.

Hari Kamis tepat Malam Jum’at Kliwon, aku dan teman-teman sedang berada ditempat yang gelap diantara tumbuhan padi, jumlah kami saat itu adalah 7 orang yang berarti angka ganjil.

Nenekku sering bercerita, angka ganjil itu vague, konon biasanya angka ganjil tersebut akan berubah menjadi genap, kalau tidak salah satunya ada yang hilang, maka akan ada sosok lain yang akan memenuhi angka ganjil tersebut.

Tapi kami tak peduli dan merasa itu hanyalah sebuah cerita mengingat kami sudah sering sekali main dan berkumpul ditempat yang seram dengan jumlah ganjil, namun tak pernah terjadi apa-apa.

Setelah beberapa lama kami di pesawahan, namun yang kami tunggu tak kunjung muncul. Oh ya, hampir saja aku lupa, yang menyamar menjadi pocong saat itu hanya satu orang, yaitu Rian. Kami melakukan hal itu agar saat malingnya nanti muncul, aku dan 5 temanku yang lain bisa langsung mengejarnya.

Berhubung kami keburu bosan karena tak ada orang mencurigakan yang muncul, kami pun akhirnya menyerah. Namun tepat disaat itu juga, Rian dengan dandanan pocongnya mendadak tergagap, dia bilang kalau ia baru saja melihat sesuatu diatas langit.

Kami terhenyak dan serentak mendongak kearah yang ia tunjuk hingga aku sadar bahwa kini bulu kudukku berdiri, teman-temanku yang lain memandang ngeri melihat objek diatas sana.

Tepat diatas kami, ada sesuatu berwarna putih yang tengah melayang, aku sempat berpikir bahwa itu hanyalah plastic yang terbang tersapu angin. Tapi seramnya benda tersebut tidak bergerak sedikitpun, padahal angin sedang berhembus dengan kencang.

Aku berharap itu adalah sesuatu lain dan bukan sosok menakutkan yang sempat melintas dipikiranku, tapi bentuknya yang lonjong dan tinggi dengan bagian atas dan bawahnya terikat tak mampu aku elakkan. Memang sih sosok itu terlihat jauh diatas sana, tapi 200% aku yakin bentuknya memang seperti itu.

Aku dan teman-teman yang lain mulai meringis ngeri, serentak kami memutuskan untuk pergi dan pulang ke pos ronda. Tapi sialnya, benda diatas itu tiba-tiba saja mengarah pada kami dengan kecepatan yang tinggi, aku dan yang lainnya terperangah karena sebentar lagi kami akan tertimpa benda tersebut.

Bruk!

Benda menyeramkan itu jatuh tepat diatas kami berpijak entah sudah menubruk siapa, namun aku yakin betul kalau benda itu jatuh tepat disampingku, aku tak berani melihat dan tak tahu seperti apa wujud aslinya jika dilihat sedekat ini.

Kami semua langsung panik, namun tubuhku tak mampu bergerak saking shock-nya, aku mendadak lumpuh dan tak bisa kemana-mana, tapi untungnya salah satu temanku yang saat itu mampu bergerak langsung meraih tanganku membuat persendian tubuhku kembali normal.

Aku pun akhirnya melakukan hal yang sama pada salah seorang yang ada didekatku untuk membantunya berdiri dan berlari, aku terus berlari tanpa menoleh kebelakang hingga akhirnya aku dan yang lainnya sampai di pos ronda yang ada ditengah-tengah desa.

Kami masa bodo dengan apa yang terjadi barusan, justru kami malah membuat lelucon tentang kejadian tadi dengan saling bertukar imajinasi. “Tadi itu apa ya? Gue gak liat, hahaha.” Seperti itulah.

Kemudian kami mendadak bisu merasakan ada sesuatu yang janggal di pos ronda ini, kata-kata lelucon kami barusan seperti hilang tertelan angin membuat kami diam berjamaah. Kami kembali merasa merinding, bukan karena gelapnya pos ronda yang minim penerangan, bukan juga karena kejadian kejatuhan sosok barusan, atau pun karena jumlah kami yang berkurang ataupun bertambah.

Nyatanya, kami masih bertujuh.

Benar-benar bertujuh.

Tapi…

Sosok yang memakai kain putih disudut sana hanya terdiam disaat kami tertawa.

Penerangan yang minim membuat kami tak sadar.

Sosok yang duduk dipojok itu terbungkus kain putih menutupi wajahnya lengkap dengan ikat tali putih diatas kepala dan bawah kakinya.1

Jantungku berpacu cepat.

Itu jelas bukan Rian yang menyamar.

Author

creels

error: Content is protected !!