Dia Sedang Memperhatikanmu

Dia Sedang Memperhatikanmu

Bagiku hantu itu tidak nyata, semua itu hanyalah karangan fiktif yang direkayasa sedemikian rupa agar orang yang mendengarnya terhanyut dan sensasi yang tidak dapat dibayangkan.

Kenapa aku mengatakan begitu? Karena aku sendiri tidak pernah mersakan hal mistis secara langsung.

Tapi entah kenapa aku merasa, ada seseorang yang berusaha mematahkan teoriku secara tidak lansung dan itu terjadi secara bertahap dalam hidupku.

Pertama kali aku merasakan hal itu tepatnya tahun 2010.

Aku menyender ke jendela mobil dimana kendaraan ini terus melaju sepanjang malam, otakku menerka-nerka kemana tujuan mobil yang dikendarai ayahku ini, karena memang sejak awal berpergian beliau tidak memberitahuku apa-apa.

Selang beberapa lama aku merenung, laju mobil pun berhenti, kubuka pintu mobil dan terpampang dengan jelas di hadapanku sebuah rumah tingkat berlantai 2 yang terkesan cukup mewah. Waktu itu memang gelap tetapi aku tahu kalau rumah itu bercat kuning, dan dari teras rumah kulihat seluruh keluargaku tengah asyik berkumpul.

“Pa, kita dimana? Kok semua keluarga ada disini?”

“Ini rumah baru pakde kamu.” Jawab beliau.

Aku yang waktu itu masih belia hanya mengangguk polos, kulihat beberapa sepupuku tengah berkumpul bermain bersama di sana, dan selayaknya saudara, aku pun ikut bergabung dan bermain dengan mereka dengan akrab,

Satu hal yang menarik dari pakde-ku, beliau sangat suka mengoleksi lukisan-lukisan. Ia juga senang traveling, itulah kenapa setiap ia berkunjung ke suatu daerah ia pasti akan menyempatkan diri untuk membeli lukisan.

Aku tidak terlalu ingat apa yang kami lakukan – karena memang saat itu aku masih sangat kecil – yang jelas kala itu aku bermain dan bersenang-senang dengan saudara-saudara yang sebaya denganku. Di antara sekian banyak sepupuku yang asyik bermain ini, ada satu orang yang lebih memilih untuk diam.

Dia adikku yang kedua, namanya Beni. Entah kenapa disaat kami sedang seru-serunya bermain kejar-kejaran dengan yang lain, dia ia justru lebih memilih untuk diam. Bahkan waktu Bude ku menyuguhkan es krim, dia menggeleng enggan, bahkan untuk melirik kearah es krim pun ia tak mau, padahal aku tahu kalau ia sangat suka es krim.

“Beni, ini es krim buat kamu.” Kali ini aku yang menyodorkan es krim ke arah nya, bukannya mengambil es krim itu, dia justru menangis dan memeluk pinggangku. “Beni kenapa?”

Ia tidak menjawabku, tangisannya justru bertambah keras, sampai-sampai menarik perhatian seisi rumah. Aku tergagap karena bingung, tidak biasanya ia menangis tanpa sebab seperti ini, dan ia seperti bukan Beni yang biasanya.

Sejak kejadian itu, Beni selalu menangis tidak jelas, selalu saja terjadi setiap malam. Anehnya sebelum ia menangis, ia pasti berdiam diri dulu beberapa saat, baru lah kemudian ia menangis.

Beberapa lama kemudian hal aneh itu mulai berangsur hilang, keluarga pikir Beni benar-benar sudah tidak kenapa-napa, tapi ternyata tidak. Ia kembali bertingkah seperti itu dan anehnya kejadian itu selalu terulang setiap kami mengunjungi rumah pakde.

•••

2 tahun berlalu sejak kejadian aneh yang menimpa Beni, keluarga pun bernafas lega karena sekarang ia sudah tidak apa-apa tiap diajak main ke rumah pakde, mungkin memang tidak ada apa-apanya, pikir kami.

Tetapi keanehan lain muncul dan kali ini menimpa kepada adik sepupuku, Rana.

Dan ya . . . semua itu berawal saat berada di rumah pakde.

Waktu itu pakde mengajak semua keponakannya termasuk aku, untuk menginap di rumahnya. Aku dan beberapa sepupuku yang lain sangat senang karena kami akan dijanjikan makan barbeque malamnya.

Seusai acara barberque yang berlangsung sampai larut tersebut, ternyata pakde dan bude sudah menyiapkan sebuah ruangan luas yang cukup untuk diisi olehku dan sepupu yang lain beristirahat.

Tetapi entah kenapa, lukisan koleksi pakde yang biasa dipajang di ruangan utama, malah ditaruh di ruangan ini. Saat aku bertanya, pakde pun bilang kalau ini cuma sementara karena ia akan mengecat ulang rumahnya.

Aku hanya bisa mengangguk paham dan langsung bergabung tidur dengan yang lain karena memang sudah sangat lelah. Posisiku waktu tidur itu, jauh dari lukisan-lukisan pakde, sedangkan Rana tidur tepat di samping lukisan-lukisan.

Besok paginya, satu rumah geger.

Seluruh sepupuku dan pakde terlihat panik, mereka mengurumuni meja makan, aku pun terkejut saat melihat apa yang menjadi pusat perhatian mereka.

Di sana terlihat Rana yang duduk ketakutan di kolong meja makan dengan matanya yang membulat tak berkedip, wajahnya pun pucat. Tangannya gemetar dan memeluk erat kaki meja.

“Rana, kamu kenapa nak?!!” tanya pakde panik.

Kini Rana mulai berbicara dengan tidak jelas. Mulutnya mulai merapal sesuatu seperti mantra, diselingi suara tawa kekehannya yang horror. Benar-benar membuat kisruh seisi rumah, dan hal itu makin bertambah parah saat pakde berusaha menarik Rana keluar dari meja.

Rana berteriak, ia bahkan tak mau melepaskan pegangannya dari kaki meja.

“Rana keluar dari sana.” Bentak pakde.

Sia-sia saja, Rana tidak mau keluar dari meja.

Kalau bisa kujelaskan ekspresinya, ia terlihat seperti orang kedinginan plus ketakutan. Matanya terus menatap ke ruangan tempat ruang tersebut dijadikan kamar istirahat kami semalam.

Tetapi untunglah meski harus memakan waktu berjam-jam, Rana akhirnya mau keluar dari meja. Ia pun segera dipulangkan ke rumah orang tuanya, hingga esoknya aku mendapat kabar bahwa Rana di rawat di rumah sakit karena demam tinggi.

Aku pun membuat kesimpulan kalau ia bertingkah aneh waktu itu karena sakit.

Tetapi semua sugesti itu pun dipatahkan oleh temanku.

Tahun 2015, waktu itu aku hendak berlatih tenis bersama teman-temanku, dan kebetulan satu-satunya keluargaku yang memiliki raket tenis hanyalah pakde.

Kebetulan pakde sedang bekerja, tetapi ia mengatakan bahwa kunci rumah nya ada di tetangganya. Aku pun pergi kerumah pakde bersama salah satu temanku, namanya Arya.

Setelah minta kunci rumah dari tetangga, aku pun berjalan ke rumah pakde, ssaat aku memutar kunci, Arya tiba-tiba menahan lenganku.

“kenapa Ar?”

Arya terdiam cukup lama, tetapi seketika ia menggeleng dan mengatakan tidak kenapa-napa.

Pintu pun terbuka, dan aku pun masuk mencari raket tenis itu. Pertama kali yang kulihat saat membuka pintu rumah adalah lukisan-lukisan koleksi milik pakde, tetapi aku tidak terlalu menghiraukan hal itu karena sejak kecil aku sudah biasa melihatnya.

“Ar, aku sudah nemu raketnya nih, ayo kita pergi”

Aku menoleh kearah Arya tetapi dia sudah tidak ada di belakangku, aku pun berjalan keluar dan mendapati Arya sudah ada disana dengan wajah pucat.

“Kamu kenapa deh?”

“Lain kali jangan ajak aku kerumah itu lagi.”

“Kenapa emang?”

“Lukisan penari Bali yang ada di rumah itu, matanya bergerak-gerak, dia ngelirik ke arah kamu terus.”