Hari Berdarah

Hari Berdarah

Cerita Seram ini adalah kiriman dari: M. Yusuf Shabran

Selamat membaca.


Seorang pria berpenampilan parlente mengunjungi makam dengan nisan berkeramik biru. Tertulis nama “Rudi” pada tanda pengenal di dadanya. Rudi pun menabur bunga serta memanjatkan doa yang membuat dirinya berlinang air mata. Kemudian, ia membersihkan papan nisan yang terlihat lapuk.

Terbesit niat buruk sebab kejadian beberapa bulan lalu. Ia pun menyiramkan sesuatu yang menyebabkan kepanikan orang-orang di sekitar makam tanpa memikirkan risiko yang nanti ia terima. Ia pulang ke rumah setelah puas memandangi kebakaran.

Sesampainya di rumah, ia disambut oleh perempuan yang duduk di kursi tamu. Rudi tersenyum lalu berkata, “Aku ingin membersihkan badan terlebih dulu. Setelah itu, kita bisa bercerita bebas tak pandang waktu.”

“Baiklah. Kita mulai dari mana?” tanyanya kepada orang tersebut. Namun, tidak ada sahutan.

“Beberapa hari belakangan ini, aku tidak bisa tidur. Aku terus membayangkan sensasi-sensasi itu. Kau harus tau, banyak orang di luar sana yang menarik perhatianku. Mereka seolah merayu agar hasratku luluh.” Sebelum Rudi melanjutkan cerita, ia meraih benda di atas meja.

Ia menghirupnya dengan penuh kesenangan. Tubuhnya serasa mengawang. Tawanya pun lepas kegirangan. “Benda ini, salah satu peninggalan dari mereka yang kutarik hatinya. Apakah kau mau mencobanya, Sintia?” tawar Rudi, tapi sosok bernama Sintia itu masih diam tanpa kata.

Niat hati ingin mengobrol lebih lama, dirinya malah tak berselera sebab Sintia membuatnya jemu. Akhirnya, Rudi membopong Sintia menuju kamar untuk melihat koleksinya yang kian bertambah—celana-celana yang tertempel di dinding.

Kepalanya mendadak sakit saat ia sedang asyik melihat barang tersebut. Terlintas memori-memori pahit yang membuatnya menangis.

 

***

 

Sore itu, Rudi membawa Sintia ke kediamannya dengan raut wajah bahagia. Ia berniat memperkenalkan Sintia dengan keluarganya. Usianya terbilang matang untuk melangsungkan pernikahan.

Rudi benar-benar berharap hubungannya direstui Pak Gun, ayahnya. Namun sayang, keinginannya harus dikubur dalam-dalam karena Pak Gun tidak menyetujui hubungan mereka dengan alasan yang belum jelas.

Padahal, ia sudah menyewa seperangkat pakaian serta dekorasi yang nantinya digunakan pada hari pernikahannya. Seketika itu ia sakit hati dan merasa putus asa.

Walaupun begitu, ia masih berhubungan secara diam-diam dengan Sintia. Sebenarnya hal yang sama juga dirasakan kekasihnya. Hari-hari mereka diisi dengan beradu resah. Rudi pernah beberapa kali membujuk kembali ayahnya, namun tetap gagal. Ketidak berhasilannya membuat ia mengurung diri.

Kamar adalah tempat terbaik baginya saat itu. Tapi, berdiam diri terlalu lama membuatnya tidak ramah. Pak Gun menyesal setelah mengetahui sikap Rudi. Namun percuma karena tidak lama setelah itu, ia dijemput kematian yang datang tanpa diundang.

Sehari setelah Rudi memutuskan keluar bilik ….

Malam masih menemani Rudi ketika rumah mulai menyepi. Di ruang atap rumahnya, ia mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk menjalankan rencana. Seekor tikus yang tak berdosa terlihat melewati Rudi.

Ia tanpa sengaja menginjak tikus tersebut lalu tikus itu menggerayahi tubuh Rudi yang membuatnya terluka. Tetesan darah yang tak sengaja jatuh ke celananya membuat ia jijik. Namun tak berselang lama, ia malah asyik menikmati aroma merah kental yang bersarang, bahkan menggunting bagian tersebut dan menciumnya terus-menerus.

Tiba-tiba, ayahnya datang—ia tak menyadari keanehan anaknya. Pak Gun berkata bahwa suara berisiknya membuat ia terbangun, kemudian ia menyuruh Rudi untuk kembali tidur. Iblis dalam hati Rudi tak menyia-menyiakan kesempatan itu, ia berbisik pada Rudi dengan antusias tinggi.

Awalnya Rudi merasa ragu, namun kebimbangannya hilang saat ia teringat kejadian tempo hari.

Rudi menatap ayahnya dengan nanar. Melihat ayahnya yang hendak ke kamar, ia pun berlari menuju dapur yang searah denganya. Dengan sigap, ia bersembunyi di balik dinding, setelah itu mengangetkan ayahnya dengan membenturkan benda keras sehingga tak sadarkan diri.

Pak Gun yang telah siuman mendapati dirinya terikat dengan rantai. Sebelum mengeksekusi ayahnya, ia menghirup potongan celana layaknya candu sembari memutar pisaunya di hadapan sang ayah.

Pak Gun bergidik, keringatnya mengalir melihat tingkah anaknya yang tak masuk akal. Berkali-kali ia bertanya tentang apa yang mau dilakukannya, tapi ia seolah tak mendengar. Rudi diam sejenak. Tampak dua ekor tikus melintas di hadapannya. Ia pun berusaha menangkap mereka walau susah payah.

“Jadi, kamu ingin membunuh ayah, Nak?” tanya Pak Gun tiba-tiba, tubuhnya melemas, “karena ayah enggak merestuimu?” lanjutnya.

Rudi tak acuh dengan perkataan ayahnya. Pak Gun tidak kuasa, ia meratapi anaknya yang berubah. Tetiba Pak Gun dikagetkan oleh para tikus yang masuk ke pakaiannya. Rudi menyaksikan penderitaan ayahnya dengan lega. Ia menggosokan kedua tangannya seperti tidak sabar—menyengir kuda.

Pemuda itu menyaksikan darah yang membasahi baju dan celana Pak Gun. Merasa kurang, ia menyasat tubuh renta itu dengan brutal. Senyumannya melebar seiring goresan yang bertambah.

Mata Pak Gun tertutup karena kehabisan daya. Sementara itu, Rudi membisu. Pandangannya mengarah ke celana Pak Gun yang bersimbah darah. Lalu ia memotong bagian celana itu dan menjilat-jilat penuh nafsu.

Semenjak kejadian semalam, Rudi semakin ceroboh. Ia membiarkan rumahnya dipenuhi debu dan barang yang berserakan. Ia duduk di teras, melihat dedaunan pagi yang tersapu angin. Sintia datang memeluk Rudi, tapi kekasihnya hanya diam dengan tatapan kosong.

Sintia pun bertanya, “Ada apa denganmu, Sayang? Kamu sakit?”

Rudi menggeleng. Sintia pun masuk ke dalam rumah, berniat menemui ayah Rudi. Walaupun hubungan mereka tidak direstui, Sintia tetap menganggap Pak Gun sebagai ayahnya. Ketika Sintia membuka pintu, Rudi dengan cepat menghentikannya yang membuat Sintia heran. Tangannya tercengkram kencang.

Rudi menyeret Sintia. Ia tidak ingin Sintia tahu bahwa ayahnya mati. Sintia pun berteriak, namun genggaman Rudi tak kunjung dilepas. Tubuh Sintia diikat di kursi kayu. Air matanya berlinang.

“Aku ingin kita menikah hari ini!” Rudi membentak Sintia hingga ketakutan.

Sintia pun membalas dengan ucapan yang terbata-bata, “Tapi ayahmu tidak merestui kita. Aku ke sini … mau menghiburmu.”

“Pokoknya kita harus menikah. Aku mencintaimu.” Rudi berubah pikiran. Ia berinisiatif membawa mayat ayahnya ke hadapan Sintia.

Sintia memekik saat melihat kondisi Pak Gun yang tragis. Perempuan itu berusaha melepas ikatannya. Rudi yang mengetahui itu langsung membuatnya pingsan dan menikam dadanya.

Lalu pada siang hari, Rudi, Sintia, dan Pak Gun telah berpakaian rapi. Mereka duduk di alas yang dipenuhi darah Sintia. Pada hari itu, Rudi merasa senang karena memiliki Sintia seutuhnya—disaksikan oleh ayahnya. Rudi pun memeluk mereka dengan erat.