Are you sure to enter this website ?
Cerita HantuCerita SeramCreepyPasta Indonesia

Pengalaman Bermain Hitori Kakurenbo (Kisah Nyata) – Part 1

Hitori Kakurenbo

Cerita Seram

*Note: Cerita ini adalah cerita mengenai pengalaman seseorang yang bermain Hitori Kakurenbo (Petak-Umpet Sendirian). Sebenarnya, tulisan aslinya dituangkan oleh narasumber dalam bahasa inggris, namun saya akan menerjemahkannya kedalam bahasa indonesia agar memudahkan anda untuk lebih mengerti betapa berbahayanya permainan ini. 

Karena ini kisah nyata, maka saya tidak akan mengurangi ataupun menambahkan apapun dalam tulisan ini. Saya harapkan anda untuk hanya sekedar membaca dan menikmatinya saja, dan jangan mencoba apapun yang narasumber lakukan di cerita ini. 

Permainan ini sangat berbahaya dan tidak akan ada yg bertanggung jawab terhadap apapun yang terjadi dengan anda jika anda mencobanya, kecuali diri anda sendiri.

Ok, jadi begini ceritanya. Aku adalah orang amerika yang sudah pernah tinggal di jepang dengan keluarga angkat (keluarga sementara) untuk keperluan study luar negeri.

Minggu lalu, saudara serumahku, Akane, bercerita tentang sebuah permainan yang dia ingin mainkan yang bernama “Hitori Kakurenbo”, atau Hide-and-Seek Alone (petak umpet sendirian).

Ngomong2, Akane bilang itu menyenangkan dan beberapa perempuan di sekolahnya telah mencobanya, dan itu (juga) cara untuk bermain petak umpet dengan hantu, namun dia tidak mau melakukannya sendiri.

Untuk beberapa orang skeptis, permainan itu kelihatan sangat tidak berbahaya, dan disisi-lain aku  juga penasaran. TENTU SAJA, AKU SANGAT MENYESAL SEKARANG. Ingat, tidak peduli betapa penasaran ataupun skeptisnya dirimu, JANGAN PERNAH BERMAIN PERMAINAN INI!!!

Singkat cerita, Akane mendapatkan boneka dari ‘100Yen Store’,  dan menamakannya Erina. Aku melihat dia merobek isian boneka itu dan menggantinya dengan beras.

“Sekarang aku butuh dua tetes darah, satu dariku dan satu darimu”, gumamnya. sambil mencoba mengingat aturan yang telah diberitahu oleh temannya. Dia menusuk jarinya dan aku menusuk jariku dengan jarum lalu kami mengoleskan darah kami ke dalam beras tersebut. Dia kemudian menjahitnya dengan benang merah, diteruskan dengan melilitkannya ke sekitar leher boneka.

“Kenapa kau melakukan itu?”, tanyaku bingung.

“Warna merah dianggap mewakili pembuluh darah. Kita akan memutuskan ‘pembuluh darah’ malam ini pukul 3”.

3 pagi atau 3 sore?”

“Pagi, idiot.” Dia menyeringai padaku.

Dia juga menyiapkan beberapa gelas air garam, dan membuat garis dengan garam melingkari kamar orang tuanya.

“Itu untuk apa?”, tanyaku penasaran.

“Harusnya, ini akan menghentikan roh pergi ke suatu ruangan tertentu untuk menemukanmu.”

“Lalu kita tidak bersembunyi saja di dalam ruangan itu?”

“Bodoh, itu tidak akan menyenangkan, kan! Aku hanya tidak ingin kamar orang tuaku – ‘dihancurkan.”

Ya Hancur. Dalam retrospeksiku, aku berharap kami tetap tinggal di ruangan itu, bahkan jika keadaan sudah ‘tidak menyenangkan’. Atau bahkan lebih baik, kuharap aku tidak pernah melakukan ini tanpa mengetahui sepenuhnya apa yang bisa terjadi.

Anyway, akhirnya kami pergi ke kamar mandi pukul 3 pagi. Semua orang di keluarga itu pergi mengunjungi bibi dan paman yang baru-baru ini punya bayi baru. Kami-pun meletakkan boneka itu di dalam bak mandi yang berisi air, dan berteriak bersamaan,

“Akane dan Sarah jadi yang pertama! Akane dan Sarah jadi yang pertama! Akane dan Sarah jadi yang pertama!”

Kemudian kami berlari keluar dari kamar mandi, mematikan semua lampu dan menyalakan tv di ruangan persembunyian kami ke saluran statis (saluran tanpa siaran/semut-semut/bruwet).

Akane mengambil pisau dan meninggalkan air garam di atas meja. Kami kembali ke kamar mandi, dan tentu saja, boneka itu ada di sana, di dalam bak mandi, tersenyum tenang kepada kami dari bawah.

“Erina, Akane dan Sarah menemukanmu!” kami berteriak. Kami membawanya keluar, Akane menusuk jantung boneka itu dan memastikan bahwa dia memutuskan banyak benang merah sebelum membuangnya kembali ke bak mandi.

“Erina jadi yang kedua! Erina jadi yang kedua! Erina jadi yang kedua! “, Kami bernyanyi kecil, kemudian berlari kembali ke ruang keluarga dengan tv menyala. Kami masing-masing meneguk air garam, memastikan untuk tidak menelannya, kemudian memegang cangkir kami dengan erat sebelum bersembunyi di lemari.

Akane meninggalkan celah pintu sedikit terbuka karena ia ingin melihat apa yang akan terjadi pada tv. Itu mengerikan, ide yang buruk. Sampai hari ini, aku berharap kami meninggalkan pintu itu dalam keadaan tertutup .

Untuk lima menit pertama, kami hanya menunggu. Tidak ada yang terjadi, dan aku merasa lega. Kemudian, aku mendengar gelombang statis TV mulai berubah. Tanpa ada diantara kami yang menyentuh remote, tv mulai beralih saluran, cukup cepat untuk membuat sebuah kalimat yang terbentuk dari kata-kata dari saluran yang berbeda.

Aku akan menemukan kalian

Aku meringkuk mundur di dalam lemari, ketakutan. Udara serasa semakin dingin. Akane masih tetap berada di situ dengan mata yang menempel ketat di celah lemari, dengan tenang.

Aku bisa mendengar langkah kaki dan berdebum.

Dimana kalian

Langkah-langkah kaki itu berubah dan berhenti di depan lemari.

Apa kalian disini

Lalu aku mendengar kata-kata yang paling menakutkan,

Aku menemukanmu

Akane langsung menjerit dan jatuh terdorong ke belakang. Pisau dapur yang telah kami gunakan untuk menusuk boneka itu tertancap di matanya, mata yang ia gunakan untuk mengintip melalui celah pintu lemari. Tanpa sengaja dia menelan air garamnya.

Untungnya, setakut-takutnya diriku, aku berhasil menjaga air garam di mulutku, juga menggenggam cangkir bodoh itu dengan baik. Aku menunggu sampai gelombang statis di tv kembali normal. Akane menangis pelan, pisau itu masih di matanya, tapi dia merintih,

“Kau perlu mengakhiri ritual.”

Aku melakukan apa yang dia suruh. Aku berjalan di sekitar rumah, mencari boneka bodoh itu. Dia tidak lagi berada di kamar mandi. Aku menemukannya, duduk tegak di tempat tidur Akane, menyeringai. Aku menyiram dan memuntahkan air garamku kearah boneka itu, kemudian berteriak,

“Aku menang! Aku menang! Aku menang!” dengan keras. Lalu dengan sigap aku meraih boneka itu dan pergi ke bak sampah tetangga dan meletakkannya ke dalam bak bensin sebelum membakar bajingan itu. Sekarang sudah jam 5 pagi.

Aku kembali ke dalam lemari, dan mengatakan pada Akane semua telah berakhir, jadi dia keluar dari lemari, pisau masih tertanam di matanya dan kami memanggil ambulans. Setelah operasi, sayangnya, diputuskan dia akan buta dengan satu mata. Akane berbohong dan mengatakan ia tersandung kemudian mengenai pisau setelah bangun pagi untuk membuat sarapan.

Hal yang menakutkan adalah, meskipun aku mengakhiri ritual dan membakar boneka seperti yang Akane katakan padaku, aku tidak berpikir kejadian ini sudah berakhir. Akane berkata masih bisa melihat “Erina” berjalan di sekitar rumah ketika hanya matanya terbuka. Aku terus melihat hal-hal dari sudut pandang mataku juga. Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan, kami pikir kami melakukan ritual yang tepat, tapi mungkin itu masih berlangsung.

Beberapa hal aneh telah terjadi akhir-akhir ini, langkah kaki di luar pintu kamarku pukul 3 pagi, saluran tv terganggu dan suara seperti besi dibengkokkan. Aku lalu membakar dupa dan garam di kamarku untuk membuatku aman, seperti halnya Akane.

Tapi jika seseorang datang kepada Anda dan menanyakan apakah Anda ingin bermain Hitori Kakurenbo, selamatkan dirimu dari kerumitan (yg akan terjadi) dan jangan melakukannya. Melihat kenyataannya sekarang, kami telah melakukan banyak hal yang salah, kudengar begitu dari desas-desus.

Menempatkan darah di dalamnya adalah salah, itu dapat mengutukmu. Kami seharusnya memasukkan potongan kuku ke dalamnya sebagai gantinya. Akane dan aku akan ke kuil dalam beberapa hari untuk mencari pertolongan hari Minggu ini. Dan jika ada yang memiliki saran mengenai apa yang harus dilakukan jika terjadi kasus seperti ini di Jepang, ‘let me know’.

Bersambung..

Note: (Ternyata nama Erina diambil dari nama bayi bibinya)

 

Baca Juga: Pengalaman Bermain Hitori Kakurenbo (Kisah Nyata) – Part 2

error: Content is protected !!
Inline
Inline