Are you sure to enter this website ?
Cerita HantuCreepyPasta Indonesia

Kenapa Kau Tidak Bisa Berbicara Dengan Orang Mati

Kenapa kita tidak bisa berbicara dengan orang mati

– Cerita Hantu –

Dulu aku memiliki seorang bibi yang berprofesi sebagai seniman penipu yg ulung, dan dia mendalaminya dari yang terbaik — Ayahnya. Ya, Kakek tidak pernah terkenal namun dia selalu berhasil mempertahankan dirinya. Menjaga diri dari radar pantauan polisi membuatnya tak pernah tertangkap, bahkan satu kalipun tidak. Bahkan kakek tampaknya sangat bangga akan hal itu.

Mamaku tidak meneruskan pekerjaan keluarga sebagai seniman penipu. Bahkan ia menjadi sangat religius dan menikahi seorang akuntan pajak. Memang terdengar ironis karena kedengarannya seperti lelucon, namun ini benar, Papaku paling jago dengan PR matematikaku.

Sedangkan mama menjaga masa kecilku jauh dari kehidupan sanak saudaranya, meskipun pada akhirnya mereka berhasil menarikku ke sebuah jalan hidup yang lebih “menarik”.

Bibi Jossie adalah satu satunya orang yang bisa menyusup masuk ke dalam kehidupanku. Dia punya gelar lengkap di bidang psikologi, yang membuatnya lebih dihormati oleh orang orang.

Tapi bibi Jossie menggunakan bakatnya untuk membaca pikiran orang dengan cara yang sangat berbeda, yang bahkan mungkin tidak diajarkan oleh universitasnya yang memberinya gelar gelar tersebut.

Bibi Jossie adalah seorang cenayang sejati.

Dia mempunyai toko dan segalanya. Permata, dedaunan, lilin, dan apapun yang kau perlukan untuk mengisi keingintahuanmu akan dunia mistis bisa dibeli dengan harga yang ringan di toko kecilnya ini. Dahulu ada sebuah ruang pribadi di belakang yang dipakai untuk membaca buku dan bahkan, Pemanggilan Arwah.

Karena biasanya papa-mamaku sibuk bekerja, aku seringkali dititipkan ke tokonya di mana aku akan membantu bibi Jossie meningkatkan ketakutan pengunjung dengan “Pertunjukan Kecil”nya. Apapun itu, dari mengedip ngedipkan lampu sampai mengetok tembok dan pintu.

Aku pernah mendapatkan sebuah ide cemerlang yg sukses menakuti para pelanggan, yaitu : Menaik turunkan suhu ruangan dengan thermostat (alat pengatur panas) dan tentu saja itu adalah ide yang bagus.

Bibi membantuku menjadi pribadi yang skeptis seperti sekarang. Dia menunjukkanku ‘Rahasia Kecil’ trik trik sulap dengan kecepatan tangan. Kami bersama sama menonton acara liputan pesulap yang membuat mayat berbicara. Dan kemudian Bibi Jossie akan menjelaskan padaku tiap langkah dari trik berbicara dengan nada yang dingin sampai cara untuk membuat mayatnya menunjuk ke salah satu penonton.

Setelah satu seri yang amat meyakinkan, aku menanyakan satu pertanyaan polos. “Mungkinkah kalau itu nyata?” Bibiku menjawab dengan tegas.

“Orang mati tidak berbicara, nak. Siapapun yang mengaku kalau orang mati bisa berbicara, mereka hanya berbual saja.”. Pernyataan bibi Jossie ini yang membuatku semakin percaya padanya.

Kalau tidak salah, ada satu pelanggan yang setahuku pernah ditolak oleh bibi. Pria itu sudah agak tua, botak dan bungkuk. Ia mencopot topinya saat ia masuk ke dalam dan memenyembunyikannya di balik badannya. Bibi mendadak tegang begitu ia melihat pria itu.

Lelaki itu mengaku pernah bekerja di penjara. Sebagai algojo. Dia bertanggung jawab untuk mengeksekusi orang orang yang melakukan kejahatan terparah di dunia ini. Dalam masa tuanya sekarang, ingatan itu menyiksanya, memakan kehidupannya.

Dia meminta bibi untuk mengontak jiwa jiwa yang telah ia cabut agar ia bisa meminta maaf dan memohon ampunan sebelum ia menjadi salah satu dari mereka. Namun,Bibiku memberi reaksi yang sungguh tak terduga.

Aku tak pernah menyaksikannya begitu marah! Dia berteriak dan melempar barang barang. Mengatakan padanya untuk “KELUAR KAU.. KELUAR KELUAR.. PERGI KELUAR!”

Aku saat itu hanya bersembunyi di bawah etalase dengan tangan menangkup telingaku hingga ia pergi. Aku mengira reaksi bibi itu karena efek ketakutan akan pekerjaan pria itu. Mungki seorang algojo adalah mimpi terburuk seorang seniman penipu.

Namun aku penasaran mengenai hal pemanggilan arwah ini, sampai suatu saat aku menemukannya. Aku ingin menggelar  ritual pemanggilan arwah yang sederhana untuk orang tuaku.

Tapi bodohnya, aku mengira mama akan senang jika aku menjadi perantara tubuh untuk arwah kakek agar mama bisa berbicara kepadanya, karena mama sangat merindukan kakek, dan ternyata…

Kesalahan fatal. Mama sangat ketakutan dan melarangku untuk menemui saudaranya lagi — Bibi Jossie

Aku meninggalkan buku catatanku di toko ketika mama membawaku pulang, sehingga aku berlari ke dalam untuk mengambilnya sedangkan mama menanti di dalam mobil. Bibi Jossie bahkan tak bertanya padaku untuk tau apa yang terjadi.

Lagipula, ia bisa membaca ekspresiku. Aku memeluknya dan memberinya salam selamat tinggal yang penuh tangisan dramatis. Meskipun begitu, ia sempat memberitahuku satu rahasia terakhir.

“Nak, ada sebuah kutukan di keluarga ini yang diwariskan turun temurun seperti obor. Aku berharap pada dewa atau Tuhan apapun di luar sana, agar aku tak mewariskannya padamu saat aku sudah tidak ada lagi.”

Setelah itukami tidak berkomunikasi lagi selama lebih dari 9 tahun.

Dan saat ini facebook mulai memasuki lingkup masyarakat dan tak ada larangan orang tua yang bisa menghentikanku untuk kembali berhubungan dengannya. Terasa sangat canggung pada awalnya.

Ia ternyata punya jalan hidup yang berat, bibi Jossie di-diagnosa menderita sindrom semacam skizofrenia yang akhirnya merenggut toko itu dari tangannya untuk membayar tagihan tagihan pengobatannya. Dan dengan perginya bisnis itu, hilang pula nafsu dan gairah hidupnya selama ini.

Suatu hari saat aku baru pulang ke rumah, aku mendapat notif pesan yang terlihat di inboxku yang membuat ku seketika jatuh ke lantai.

“Aku mencintaimu, nak. Ingat apa yang kukatakan padamu.. Selamat Tinggal”

Aku mendial nomernya, sambil terisak. Tapi, tidak ada jawaban. Aku-pun menelponnya lagi, lagi, lagi dan lagi…

Aku benar-benar terpuruk bahkan sampai tidak bisa memberitahukan mama. Polisi mengabarkannya pada ibu keesokan hari. Kecelakaan mobil, Pengemudi mabuk.

Pemakaman itu sangat kelabu. Sanak keluarga yang tak pernah kutemui sebelumnya memenuhi gereja. Aku duduk di antara orang tuaku di barisan terdepan, memacu otakku untuk menerka apa yang bibi Jossie ingin aku ingat.

Kami berjalan dibelakang peti jenazah menuju kuburan dalam keheningan yang mencekam. Pendeta memberikan pidato kecil untuk terakhir kalinya dan kemudian aku tertinggal sendiri bersama batu nisannya, masih berusaha untuk mengingat.

Potongan percakapan orang tuaku keluar masuk rentang perhatianku. Jika saja Bibi Jossie tidak begitu misterius…

“-berharap untuk menghindari takdirnya. Sangat memalukan.”

“Hmm,, Menghindari takdir?” Kata itu mengusikku. Bibi memang sudah meninggal dan dimasukkan ke dalam peti. Aku kemudian berbalik untuk mengucapkan sesuatu kepada orang tuaku dan akhirnya aku mengerti.

Dibelakang orang tuaku ada sekelompok besar orang orang yang berdiri dan menatap dengan kosong. Orang tuaku sama sekali tidak memperhatikan mereka sedikitpun. Kulihat juga sang pendeta menggumankan beberapa patah kalimat belasungkawa dan kemudian pamit kepada orang tuaku, lalu berjalan tepat menembus kepadatan orang-orang itu tanpa mengganggu satu jiwa pun.

Di depan kerumunan itu, ada bibi Jossie yang penampilannya seperti hari terakhir aku melihatnya. Semua ucapan “Istirahat Dengan Tenang” (rest in peace) takkan membantunya sama sekali. Mulutnya terbuka lebar, lebar, lebar sekali, dan itu yang kutahu.

Aku tahu apa kutukan keluargaku. Aku tahu kenapa orang mati tidak berbicara.

Karena mereka terlalu sibuk berteriak.

 

Baca Juga: 6 Menit

error: Content is protected !!
Inline
Inline