Kisah Nyata Horor: Magang Jadi Guru (Part 2)

Kisah Nyata Horor Magang Jadi Guru

Sebelumnya di: Magang Jadi Guru (Part 1)

Ancaman dari suara yang yonatan tidak pernah kenali sebelumnya membuat Yonatan hanya diam terpaku sambil mengambil gagang sapu, tangannya bergetar, walaupun dia sudah mengerti itu apa hanya saja dia masih ketakutan.

Aku ngerti kowe nduwe dekengan gede ndek mburimu! Titenono ae awakmu! (Aku tau kamu punya bala bantuan besar di belakangmu! Awas saja kamu!) ancaman itu kemudian hilang, hening seketika hanya ada suara jangkrik dari luar rumah tersebut yang terdengar.

Penasaran Yonatan ingin membuka pintu dan ingin melihat akan tetapi kaki dan tangannya sudah bergetar sendiri memaksa untuk tetap di kamarnya dan memaksanya untuk tidur serta melalui malam pertama di rumah tersebut.



Keesokan Harinya…

Yonatan pun sudah bersiap, mulai dari sepatu pantopel hingga almamater kebanggaannya sudah dipakai, kemudian dia berjalan menuju tempat meetpoin di mushola didekat rumahnya tersebut.

Ternyata sudah ada 9 orang yang menunggunya

“Wes suwe a?” (Lama ya?) Tanya Yonatan ketawa

“Halah sampek wes nduwe putu iki” (halah sampai sudah punya cucu ini) jawab Andi teman satu fakultas dengan Yonatan.

Yonatan sudah mengenali 3 orang disitu karena memang satu fakultas dengan dia, hanya saja yang lainnya masih terlihat asing baginya.

“Yowes wes jam 7 iki wayahe mlebu sekolah kan? Ono upacara penerimaan” ungkap salah seorang dari kami yang memiliki penampilan nyentrik dengan kacamata kotaknya

Kemudian kami semua menyetujui kata-katanya dan langsung saja berjalan bersama menuju ke sekolah tersebut yang hanya berjarak kurang lebih 40m dari kami berkumpul hingga kami berhenti sejenak ketika terdengar teriakan dari dalam sekolah.

Kali ini bukan hanya Yonatan tapi semua mahasiswa itu mendengarnya

“Heh..suoro opo iku?” (suara apa itu) tanya andi sambil melihat ke arah teman teman.

“Lha mosok ono kesurupan rek?” (lah masa ada kesurupan?) tanya salah satu dari kami sambil menaikan alisnya.

“Halah paleng yo onok teater iki, ekstrakulikuler” (halah mungkin ya ada teater ini, ekstrakulikuler) jawab nana salah satu dari kami dengan wajah santai.

Akhirnya mereka semua tanpa ambil pusing langsung menuju ke sekolah tersebut, semua menuju lobbi dan menunggu kurang lebih 15 menit hingga kepala sekolah menemui mereka.

“Silahkan kesini mas, mbak semuanya” kata kepala sekolah itu penuh wibawa hingga anak anak semua segan.

“Baik pak” jawab mereka.

Kemudian mereka mengikuti kepala sekolah itu menuju tempat dimana upacara penyambutan berlangsung, melewati lobi sekolah ternyata ada lapangan yang cukup luas di dalam sekolah dan tepat setelah lapangan ada gedung satu lantai yang ukurannya juga tak kalah besar.

Dikelilingi oleh ruangan kelas yang dibagi sesuai jurusan masing masing, akhirnya ke 9 anak itu masuk kedalam ruangan yang dituju kepsek, kemudian duduk dibangku yang sudah dipersiapkan.

Setelah kurang lebih 5 menit datang dosen pembimbing beserta satu mahasiswa yang memang sejak awal berangkat dari kota dengan dosen tersebut. Semua berjalan normal menurut Yonatan hingga ada beberapa pernyataan kepala sekolah yang membuat penasaran.

“Sampeyan-sampeyan kalo sudah masuk sini saya anggap sudah menjadi bagian dari sekolah ini, bukan sebagai tamu, jadi jangan sungkan bertanya hal apapun dan tolong jangan pernah melanggar beberapa aturan yang sudah sejak dulu dibuat ..” perkataan kepsek seperti tertahan oleh sesuatu dan sesekali melihat ke arah luar ruangan

“Ya kalian sudah mahasiswa pastinya sudah mengerti tata krama”

Imbuh kepsek kemudian melemparkan senyuman kepada semuanya akan tetapi bagi Yonatan itu merupakan peringatan bagi mereka semua agar tidak berbuat macam macam khususnya disekolah ini.

“Aku luwe iki, anjir” (aku lapar ini, anjir) bisik gana ke andi.

“Podo ae ,aku yo rung sarapan” (Sama aja aku ya belum sarapan) jawab andi.

“Iki kapan marine ya.” (ini kapan selesainya ya) kata gana lirih ke Andi dan aneh nya pak kepsek yang menjawab.

“Sebentar lagi selesai dek gana, nanti bisa langsung ke dapur khusus guru ada makanan disana anggap saja rumah sendiri” Sontak membuat gana dan andi kaget karena jarak antara kepsek dan mereka cukup jauh, hingga suara kemungkinan tak bisa didengar.

Setelah beberapa penjelasan mengenai sekolah dan peraturan sudah dijelaskan terakhir sebelum selesai kepsek bilang

“Tuturmu, lakonmu nuntun Uripmu” (Kata- katamu, perilakumu menuntun hidupmu) kata kepsek lirih tapi sangat jelas bagi mereka yang berada diruangan tersebut, Yonatan melihat wajah kepsek saat bicara kata tersebut seperti bukan kepsek yang tadi.

“Ah aku salah njukuk nggon magang koyoe” (ah aku salah ambil tempat magang sepertinya) batin Yonatan.

Setelah semua selesai akhirnya 10 mahasiswa dan dosbing menuju ke dapur guru yang sudah disajikan segala makanan dan kemudian makan bersama.

Yonatan mengambil nasi goreng kemudian duduk di pojok sendirian untuk makan hingga ada guru pria dengan rambut yang sudah mulai memutih berbicara kepadanya.

“Enak makanannya dek?” tanyanya sembari membawa 1 cangkir kopi kemudian ditaruh di meja dekat mereka.

“Iya pak enak banget” jawab yonatan semangat.

“Sampeyan gak abot tah nggowo ngenean doh kono doh kene” (kamu gak merasa berat bawa ginian jauh sana jauh sini) kata pak guru tersebut yang membuat Yonatan menatap penasaran.

“Maksudnya pak?” tanya Yonatan

“Ah ….” hening sejenak

“Maksudku , sampeyan praktik teko kota sebelah nang deso bedo wilayah ngene kuat?” (maksudku, kamu praktik dari kota sebelaj ke desa beda wilayah gini kuat?) jawab guru tersebut seraya melemparkan senyuman yang membuat Yonatan makin penasaran.

“Waduh pak, saya ngejar gelombang 1 dan yang ada disini yang lain sudah penuh jadi yaa gapapa buat pengalaman saja” jawab Yonatan mengabaikan rasa curiganya

“Pak burhan, tolong silabus yang ini dicek lagi ya” kata seseorang kepada guru yang menanyai Yonatan tersebut

“Oke pak , yaudah dek enakin makannya, o iya ini kopi buat kamu, saya tau kamu gasuka kopi, tapi minum aja…pasti enak” kata pak burhan kemudian pergi.

Menuju ruangan lain, Yonatan pun segera melihat ke arah cangkir kopi kental tersebut dilihatnya cangkir kecil khas jaman dulu seperti milik alm kakeknya.

“Hmm ngerti aku ga seneng kopi ko endi ya?” (hmm tau aku ga suka kopi darimana ya?) batin yonatan kemudian mulai mengambil cangkir kopi itu, diciumnya bau kopi tersebut dan beda, bau kopinya didominasi oleh bau melati.

Akhirnya Yonatan mencoba satu tegukan dan entah kenapa kopinya amat sangat enak, hingga tak bersisa.

“Lek kopine model ngene iki yo seneng aku” (Kalau kopinya model begini ya sukak aku) batin yonatan kemudian melanjutkan makannya.

Setelah acara makan makan selesai. Minggu pertama di sekolah itu agendanya adalah berkeliling sekolah dalam rangka perkenalan sekaligus mengenalkan dengan guru pamong (guru yang bertugas sebagai pembimbing di sekolah)

10 anak dengan 5 Pamong, masing masing pamong kebagian dua mahasiswa, Yonatan bersama Nana dengan guru pamong pak hakim

“Perkenalkan saya pak hakim, mulai sekarang saya menjadi pamong kalian” kata beliau

“Baik pak, saya Yonatan”

“Saya Nana pak”

Kata mereka kemudian menyalimi pak hakim satu – persatu.

“Sebelum kita mulai tournya ada yang ingin ditanyakan?” tanya pak hakim sambil menenteng map bewarna merah miliknya.

“Pak , sebelum jadi sekolah tempat ini apa ya?” tanya Yonatan tiba tiba sontak membuat pak hakim setengah terkejut kemudian senyumnya mengembang.

“Yo embuh mas aku ket bayi sekolah ini wes onok” (Ya gatau mas, aku dari bayi sekolah ini sudah ada) jawab pak hakim kemudian disusul gelak tawa nana dan juga Yonatan.

Kemudian mereka bertiga berkeliling areal sekolah, tampak dari jauh Yonatan melihat Andi dan Gana dengan Pak Burhan dengan 3 anak kecil di belakangnya juga sedang explore sekolah ini.

Setelah cukup lama berkeliling dan mendengar penjelasan dari pak hakim tentang menjadi guru dan apa saja yang harus dipersiapkan..entah kenapa Yonatan tertarik pada salah satu kamar mandi di jurusan Marketing.

Kemudian entah apa yang membuat mulut Yonatan ingin bertanya ke Pak Hakim.

“Pak, saya mau tanya, toilet paling ujung di jurusan marketing itu masih digunakan?” tanya Yonatan asal.

“Heh??….” pak hakim kaget dan diam sejenak.

 

Bersambung ke Part 3 ya ~