Kisah Nyata Horor: Magang Jadi Guru (Part 3)

Kisah Nyata Horor Magang Jadi Guru

Sebelumnya di: Magang Jadi Guru (Part 2)

Setelah cukup lama berkeliling dan mendengar penjelasan dari pak hakim tentang menjadi guru dan apa saja yang harus dipersiapkan.. entah kenapa Yonatan tertarik pada salah satu kamar mandi di jurusan Marketing.

Kemudian entah apa yang membuat mulut Yonatan ingin bertanya ke Pak Hakim.

“Pak, saya mau tanya, toilet paling ujung di jurusan marketing itu masih digunakan?” tanya Yonatan asal.

“Heh??….” pak hakim kaget dan diam sejenak.



“Maaf pak, Yonatan tidak bermaksud” kata Nana sambil mencoba untuk mencairkan suasana

“Gini dek, nanti bapak jelaskan tapi tidak disini ya” kata pak Hakim dengan nada seperti orang yang sedang dibuntuti dan takut akan sesuatu.

Padahal kalau dipikir sekolahnya ramai akan tetapi yonatan merasa bahwa disana hanya ada Dia, Nana dan Pak Hakim…entah aura apa itu yang jelas Yonatan tau bahwa sekolah ini ada sesuatu rahasia yang amat besar.

“Yaudah ayo kembali ke meja saya, saya kasih berkas promes serta prota nanti dari situ kalian bisa bikin rpp” kata Pak Hakim mengalihkan pembicaraan.

Kemudian Yonatan dan nana mengiyakan ajakan Pak Hakim dan kemudian berjalan mengikutinya.

Setelah sampai di kantor guru, pak hakim duduk dikursinya disusul Yonatan dan nana duduk di kursi depan meja pak Hakim.

“Jadi gini dek sebelum masuk promes prota, apapun yang terjadi jangan pernah menyinggung masalah toilet itu ya, katanya ada penunggunya” kata pak Hakim sambil menghidupkan laptop miliknya.

“Penunggu? Maksudnya hantu pak?” tanya Nana kaget.

“Yah kurang lebih seperti itulah, tapi asal kalian tidak aneh aneh ya aman aman saja” jawab pak Hakim.

“Maaf sebelumnya pak saya ingin tanya , disini titik yang dikatakan angker dimana aja? Apa pohon yang dilingkari pake jarik itu juga?” tanya Yonatan penasaran.

“Heh? Jarik?…ora ono mas…seng jarene angker iku yo nd kamar mandi, gedung belakang ambek ndek kopsis” (Hah? Jarik? Gak ada mas , yang katanya angker itu ya di kamar mandi, gedung belakang dan di kopsis) kata pak Hakim yakin dengan apa yang diucapkannya.

“Disini gapernah ada pohon yang dilingkari pake jarik mas” imbuhnya yakin

“Kamu bicara apa si tan?” tanya nana curiga.

“……” yonatan hanya diam masih mencoba mengembalikan ingatannya kemaren ketika dia melihat jelas beberapa pohon di tutupi melingkar dengan kain jarik.

“Nana ada flashdisk? Bapak kasihkan softfilenya, besok kita diskusikan bersama rppnya” kata pak Hakim kemudian menerima flashdisk dari Nana.

Setelah semua dicopy akhirnya Nana dan Yonatan pergi.  “Pak pamit dahulu kami mau ke ruangan kami” kata nana sedangkan Yonatan masih berfikir tentang rangkaian kejadian tak masuk akal tadi

“Kon lapo e kok koyo arek gendeng?” (kamu kenapa kok seperti anak gila) tanya Nana penasaran.

“Aku ki wingi eruh pohon seng di muteri gae jarik na, ayo mrono lek gak percoyo(aku kemarin itu lihat pohon yang di puteri pake jarik na, ayo kesana kalo gak percaya) jawab yonatan yakin kemudian Yonatan pergi memastikan disusul nana

“Lah ndi? Wong mek tanah kosongan ngene” (lha mana? Orang hanya tanah kosongan gini) kata Nana.

“Loh aku lihatnya kan dari sana” Yonatan menunjuk ke arah rumah tinggal sementaranya.

“Aku amat sangat yakin disini” kata Yonatan.

“Westalah halu awakmu iku tan” (halah, halu kamu itu tan) sela nana kemudian berbalik badan dan pergi meninggalkan Yonatan.

“Eh na tunggu…” kata Yonatan kemudian menyusul nana

Setelah mereka berjalan akhirnya mereka sampai diruangan mereka yang berada di pojok sendiri sebelah dengan ruangan komputer.

Tampak terlihat ada yang memainkan game di laptopnya, ada yang berbicara tentang apapun itu, ada yang makan dan lain lain.

“He mari ko endi awakmu tan, na?” (he habis dari mana kamu tan, na?) tanya Noven.

“Halah biasa nemenin yonatan cari degem” ejek Nana kemudian duduk di Kursinya

“Walah yo gak ngunu pisan na…” (walah ya gak gitu juga na) bela Yonatan kemudian menyusul duduk juga.

“Andi mbek Gana nandi?” (andi sama gana kemana) tanya Nana.

“Sek golek jajan ndek kantin” (masih cari jajan di kantin) jawab Noven.

Tak lama kemudian Gana dan Andi Datang membawa jajan 2 kresek hitam kecil.

“Woe kilo jajan rinioo” kata Gana mengundang anak anal lain untuk makan jajan bersama.

Semua mendekat dan makan jajan sambil bercerita tentang kuliah hingga Andi membuka obrolan seputar yang dialami nya tadi bersama gana.

“Aku mau di deni mbek Pak Burhan wkakakaka yo gak gan?” (aku tadi di takut takuti sama pak burhan, ya gak gan?)

“Whahaha iyo ndi, aku sempet merinding juga siih sampe gemeter tibakno aku luwe” (whahaha iya ndi, aku sempat merinding juga sih, sampai gemetar ternyata aku lapar)

Jawab gana kemudian disambut gelak tawa semua di ruangan itu.

“Iyo jarene sekolah iki enek penunggune dan enek gerbang portal menuju alam ghaib…” (iya katanya sekolah ini ada penunggunya dan ada gerbang menuju alam ghaib) kata Andi.

“Pas cerito ki nd nggon cedek e kamar mandi jurusan marketing dan mek bertiga tok, opo gak deg deg an hee” (waktu cerita di tempat dekat kamar mandi jurusan marketing dan hanya bertiga aja, apa gak deg deg an hee) imbuh Andi.

“Halah aku ngunu gapercoyo ngunu ngunan bre” (Halah aku gitu gapercaya begituan bre) ungkap Hamid salah satu mahasiswa yang magang

“Halah awakmu gapercoyo engko di deni semaput mid” (halah kamu gapercaya nanti di hantui pingsan mid) kata Andi mengejek.

“Yo ora seh pokok ayu” balas hamid jengkel.

“Loh bukannya kalian tadi ber enam ya gan?” tanya Yonatan penasaran.

“Ber enam? Dari awal sampe selesai tadi cuma aku, andi sama Pak Burhan aja, gak ada tambahan lainnya” jawab Gana yakin.

“Onok opo emang e ho?” (Ada apa memangnya ho?) Tanya Gana.

“Ah gapapa aku salah lihat kali” jawab Yonatan ragu.

Tapi Yonatan sangat yakin, ada 3 anak kecil yang mengikuti Gana, Andi serta Pak Burhan , 2 laki laki 1 perempuan, satu laki laki itu bawa bola plastik biru putih sedangkan 2 anak kecil lainnya seperti saling berbicara.

Yonatan amat sangat yakin itu karena terlihat dengan jelas dan solid bentuknya sama seperti Yonatan melihat Gana, Andi, dan pak Burhan.

“Kon mau ndelok opo e?” (kamu tadi lihat apa e?) tanya Nana.

“Gapopo na…guduk opo opo kok” (gapapa na, bukan apa apa kok) Jawab Yonatan kemudian keluar dari ruangan untuk mencari angin segar sejenak.

Yang difikiran Yonatan saat itu adalah mencari benang merah antara kejadian semalam hingga hari ini dia mulai gusar sekaligus takut terlebih perkataan pak Burhan saat makan makan tadi.

Masalahnya bertambah lagi selain masalah rpp , juga masalah diluar akal sehat. Yonatan mencoba membuat semuanya baik baik saja seperti tidak ada masalah apapun …masalahnya difokuskan kepada rpp dan perangkat mengajarnya saja…

“Lo he tan..kok lungguh dewean? Gak wedi dileboni demit a?” (loh he tan, kok duduk sendirian? Ga takut dimasuki hantu?) Kata wanita berhijab hitam memakai almamater sama, biru gelap dengan ada logo kampus di bagian kiri

“Oalah ora awan awan ngene mosok yo ate mlebu sar” (oalah, ndak, siang siang gini masa mau masuk sar) jawab yonatan kemudian berdiri menghadap sari.

“Nang kantin a? Golek ngombe” (Ke kantin a? Beli minum) ajaknya

“Ayo wes ngelak yoan iki, arek arek ndek njero a?” (ayo wes, haus juga ini, anak anak di dalam?)

“Iyo nd njero” (Iya di dalam).

Kemudian Sari dan Yonatan berjalan menyusuri selasar menuju kantin, sembari mata Yonatan melihat kanan dan kiri di ruangan komputer. Ada satu kelas siswa sedang melaksanakan kegiatan belajar mengajar ditemani guru.

Entah kenapa dari sekian banyaknya anak dengan riuhnya, mata Yonatan hanya terfokus pada gadis yang duduk membelakangi papan dengan pakaian seragam lusuh rambut yang tidak disisir itu

“Cek rame ne yoo” (kok rame banget ya) celetuk Sari sambil melihat ke arah Yonatan melihat.

“Jenenge ae sekolahan…..” (namanya aja sekolahan) kata Yonatan terhenti ketika anak yang diperhatikan tadi menoleh ke arah Yonatan, kemudian bibir anak itu bergumam yang Yonatan sendiri entah tau darimana anak itu akan bilang “Lek sepi yo kuburan!!” (kalo sepi ya kuburan!)

 

Bersambung ke Part 4 ya ~