Kisah Nyata Horor: Tinggal di Kost-Kostan Angker Sendirian (Part 1)

Tinggal di Kost-Kostan Angker Sendirian

Hallo semua, ini pertama kali gw bagi pengalaman horor yang pernah gw alami , mohon dimaklumi jika masih banyak kesalahan dalam penulisan dan mungkin kurang tertata rapih dan engga bikin merinding.

Maklum newbie, hehe.

Salam horor.

Cerita ini terjadi di antara pertengahan tahun 2017 sampai awal tahun 2018 lalu.

Semua nama tokoh, nama tempat, yang ada di cerita ini disamarkan, spy menghormati pemilik kos-kosan tersebut.


Cerita dimulai ketika Dewi (tokoh utama dlm cerita ini) berkeliling di daerah C untuk mencari kos2an baru, karena kosan yg lama seminggu lg habis masa kontraknya, dan alasan yg paling mendasar mengapa Dewi mencari kosan baru karena kosan yg lama yg biayanya lumayan mahal

Dewi memilih berkeliling mencari kosan di daerah C karena lokasinya lebih dekat dengan kampus Dewi drpd lokasi kosan yg sebelumnya.

Dewi tidak sendirian, siang ini Dewi ditemani Bela (teman satu kosan Dewi di kos yg lama).

Dewi dan Bela berkeliling dan berhenti setiap kali ada bangunan yg ada plakat “TERIMA KOS PUTRI”.

Seperti halnya orang mencari tempat tinggal baru dengan melihat-lihat kondisi bangunan, kebersihan lingkungan, akses dan peraturan, harga, dan yg terakhir adalah masih ada atau tidaknya kamar kosong utk ditempati.

Hari semakin sore, karena memang Dewi dan Bela berangkat sekira pukul setengah 2 siang tadi,

Bela: “Wik, balik sek yo wes meh surup iki, sesuk meneh tak kancani” (Wi, pulang dulu yuk udah mau maghrib, besok lagi tak temenin”)

Dewi: “iyo, Bel. Aku yo wes lumayan lemes iki sisan mampir golek maem yo ning ngarep kampus U, biasa penyetan langganan kae Bel” (“Iya, Bel. Aku juga udah lumayan capek ini, sekalian mampir cari makan ya di depan kampus U, biasa warung penyet langganan itu Bel”)

Bela: “Iyo ayo, aku yo luwe, haha” (“Iya ayo, aku juga lapar, haha”)

Dewi bergegas menyalakan motor maticnya dan menuju warung penyet langganan mereka.

 

Singkat saja..

4 hari berlalu, Dewi belum jg mendapat kosan yg tepat.

Malam ini Dewi kebetulan berada di minimarket dekat daerah C, guna membeli pasta gigi. Selesai dr situ Dewi berinisiatif untuk berkeliling lagi di daerah C dibagian gang kecil lain yg belum ia lewati sebelumnya

Sekira 20 menitan Dewi berkeliling menyusuri gang2 dgn motornya, ketika berada di pertigaan Dewi memilih arah untuk menuju arah Timur saja.

Dan betul saja, baru kira-kira 3 meter ia membelokkan stang motornya, di kiri jalan ada plakat “TERIMA KOS PUTRI” lengkap dengan nomor telepon yg bisa dihubungi.

Dewi pun bergegas mengerem motornya dan berhenti sejenak untuk melihat keadaan depan kos, dan tak lupa menyalin nomor telepon yg tertera diplakat, untuk segera Dewi hubungi.

Entah kenapa firasat Dewi tertarik sekali pada kosan itu, hingga membuat Dewi menyudahi pencarian kosan pada malam itu jg.

Dewi akhirnya sampai di kosan yg lama, saat itu pula Dewi membuka HP dan segera menghubungi nomor yg Dewi salin tadi.

Dewi girang sekali ketika pemilik kosan menjawab pertanyaan Dewi, bahwa di kos tersebut masih ada kamar kosong yg siap pakai.

Dewi dan pemilik kos (sebut saja Bu Karti) pun bertemu keesokan harinya guna mengecek kondisi dalam kos.

Keesokan harinya Dewi bergegas menuju kos Bulan (samaran nama kos-kosan Bu Karti) untuk menemui Bu Karti.

Sesampai di sana keadaan terlihat beda karena gerbang di buka lebar, entah karena akan kedatangan Dewi atau memang jika ada matahari kos tsb sengaja di buka lebar.

Gerbang itu langsung berhadapan dg garasi, karena terlihat motor-motor terpakir tepat di balik gerbang.

Dewi: “Assalamualaikum..”

Bu Karti: “Waalaikumsalam, apa ini dik Dewi yg telfon cari kos kemarin ya?”

Dewi: “Iya betul, Bu, saya Dewi”

Bu Karti: “Monggo dilihat-lihat dulu, begini kondisi kamar-kamar yg masih kosong dik”

Bu Karti menjelaskan seisi kosan, kosan ini terdiri dari 2 lantai, ada 14 kamar, ada 4 kamar mandi (2 di lantai bawah, 2 di lantai atas), 1 dapur di lantai atas, tempat jemur pakaian di lantai atas.

Dari 14 kamar hanya beberapa kamar saja yg terisi oleh mayoritas mahasiswa kampus B, dengan satu rumpun berasal dari pulau Kalimantan, NTT, NTB, tidak ada sama sekali yg berasal dari Jawa seperti Dewi.

Dewi sedang memilih kamar mana yg akan ia tempati, Mengingat 2 hari lagi masa kontrak di kosan lama akn habis, Dewi pun memilih untuk akan tinggal di kos Bulan ini.

Walau sebenarnya kondisinya agak berbeda dg kos yg lain, penataan bangunannya aneh, dari garasi, ruang tamu, hingga bangunan 2 lantai yg menurut Dewi kurang sempurna, penataan kelistrikan yg kurang tepat juga, karena banyak kabel bergelambir di tembok, di lantai tangga.

Apa boleh buat, Dewi sudah lelah mencari kos kesana kemari yg notabene nya sudah penuh terisi semua, harga yg ditawarkan di kos Bulan pun tergolong murah

Akhirnya Dewi sepakat mengambil kamar nomor 1, paling dekat dg kamar mandi, paling dekat dg garasi. Dalam benak Dewi sebenarnya merasa aneh, kenapa yg lain tidak memilih kamar yg ini, tp Dewi menghempas pemikiran itu.

Mungkin saja mereka lebih nyaman berada di kamar yg lain.

 

Satu minggu berlalu,

Dewi sudah menempati kosan yg baru itu selama seminggu ini. Dari sini Dewi mulai berkenalan secara lebih dekat dg teman-temannya yg lain, dan Dewi berkeliling kos untuk melihat2 apa saja isi dalam kos itu.

Ada 2 kamar tepat di bawah tangga menuju lantai atas, 2 kamar ini saling berhadapan, Dewi mengecek apa isi kamar itu karena terlihat tidak berpenghuni dan pintunya terbuka lebar.

Ternyata 1 kamar difungsikan untuk menaruh kulkas, 1 kamar lagi untuk ruang TV.

Tapi anehnya 2 kamar ini seperti jarang sekali terjamah oleh manusia, terlihat dr lantai yg sangat berdebu tebal dan tidak ada jejak sendal atau jejak kaki. Padahal kebanyakan orang dikos ini lebib sering menghabiskan waktunya sepulang kuliah untuk tetap stay di kos.

Lagi-lagi Dewi menepis apa yg ada di pikirannya itu. Dewi masih mencoba berfikir positif.

Dibawah tangga terdapat sanyo air, tanda kosan ini supplai air dari sumur bukan dari PAM setau Dewi.

Dewi berbalik arah dan hendak menuju lantai atas, ketika badan Dewi berbalik dan sembari matanya melihat ke arah atas tangga, Dewi seperti melihat sesuatu yg tiba-tiba hilang begitu saja.

Dewi sempat kaget, tapi lagi-lagi Dewi masih mencoba berfikir positif, mungkin saja ada, teman kos lain yg lewat barusan.

Dewi pun melangkah menaiki tangga, sesampai di atas, Dewi mengecek 2 kamar mandi yg ada di lantai atas ini, alangkah terkejutnya Dewi, 2 kamar mandi ini sudah tidak terpakai, seperti sudah tidak bisa di fungsikan, tempatnya sangat kotor,

Banyak bambu, kayu, ember yg sudah tidak layak pakai, baunya juga pengar. Pantas saja, selama di sini orang2 yg menempati lantai atas pada mandi di kamar mandi bawah.

Setelah mengecek kamar mandi, Dewi berjalan melihat kamar-kamar berjajar di samping kanan kirinya.

Dewi merasa aneh kembali, kenapa entah di lantai bawah dan lantai atas, kamar yg dekat dengan tangga tidak pernah ada yg mau menempati. Toh ukuran kamar sama saja, fasilitas dalam kamar juga sama saja, tidak ada bedanya sama sekali.

Btw di kos ini ada 2 tangga:

  • 1 tangga menghubungkan lantai bawah ke garasi, gerbang, dan kamar mandi yg disebut kamar mandi bawah.
  • 1 tangga lagi menghubungkan lantai bawah dg lantai atas..

Kamar Dewi tepat di tangga yg menghubungkan lantai bawah dg garasi dll tersebut. Anehnya depan kamar Dewi itu juga ada kamar, lagi-lagi kamar ini juga tidak di tempati.

Aneh sekali gumam Dewi.

Perasaan Dewi mengenai keanehan di kos tsb mengundang berbagai macam pertanyaan di benak Dewi. Dewi sendiri pun banyak mengalami kejanggalan dari pertama mencari kos ini.

Di awal, Dewi sebenarnya kurang sreg dg tempat tinggal barunya, karena, lingkungannya cukup sepi, dan bangunan kos ini berdiri di paling pojok dekat pertigaan gang.

Kanan kos ini bukan langsung berjajar rumah, akan tetapi ada kebun kosong yg rimbun. Depan kosan tepat di seberang jalan juga ada kebun kosong yg rimbun.

Tak hanya itu,

Dewi baru mengetahui setelah beberapa minggu ia tinggal di kosan itu, bahwa di sebelah selatan kurang lebih 100 meter dari pertigaan kos itu ada makam.

Kejadian-kejadian aneh mulai terjadi,

Dewi yg notabennya jarang menghabiskan waktu di kos, dikarenakan Dewi berkuliah dan bekerja, sehingga waktu Dewi untuk di kos hanya ketika sudah larut malam saja untuk mengisitirahatkan diri.

Setiap malam Dewi selalu dikagetkan dengan suara ketukan di tembok yg ada di sebelah Barat. Ketukan itu terjadi di hampir setiap malam ketika Dewi sedang mengistirahatkan tubuhnya.

Sangat aneh sekali, malam-malam ada yg ngetok tembok dg keras secara berulang kali, Padahal di sisi tembok sebelah Barat itu tidak ada bangunan sama sekali, yg ada hanya kebun kosong yg rimbun ditumbuhi ilalang.

Apa mungkin ada orang iseng yg memang usil mengetok-ngetok tembok dari arah luar, tapi kejadian itu hampir setiap malam dialami oleh Dewi.

Tapi apa mungkin? Ada orang yg nyempatin waktunya tengah malam untuk ganggu orang dgn mengorbankan dirinya masuk ke kebun kosong yang penuh dengan ilalang dan pepohonan pisang.

Tidak hanya suara ketukan itu, namun ketukan itu sering kali diiringi dg suara orang berlarian di belakang tembok itu.

Hal itu membuat Dewi berfikir untuk menanyakan ke salah satu teman kosnya yg kamarnya bersebelahan dg kamar Dewi, sebut saja Caca. Apakah Caca juga mengalami hal yg sama dengan Dewi atau tidak, Dewi hanya ingin memastikan.

Di kos ini Dewi lebih sering berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia, karena memang mayoritas penghuninya dari luar Jawa dan kurang fasih dalam berbahasa jawa.

Dewi: “Ca, lagi ngapain? Ngga kuliah?”

Caca: “Ngga, Wi, baru sedikit pusing, kamu biasanya kerja kan?”

Dewi: “kebetulan hari ini aku libur. Ca, aku boleh tanya sesuatu ngga ke kamu?”

Caca: “boleh, mau tanya apa, Wi?”

Dewi: “kamu pernah ngalamin kejadian aneh engga di sini?”

Caca sedikit menunjukkan ekspresi kaget dan meringis kecut. Caca diam sejenak sambil meneguk air putih yg ada dalam botol minumnya.

Caca: “memangnya kenapa kok kamu nanya begitu, Wi? Ada yg aneh ya?

Dewi: “aku cuma mau mastiin aja sih, apa cuma aku doang yg ngalamin, karena sering banget itu terjadi”

Dewi menceritakan kejadian yg Dewi alami selama di kos pada Caca, Dewi menceritakan kejadian ketukan di tembok dan suara orang berlarian di tengah malam. Lagi-lagi Caca diam dg raut wajah yg menciut setelah mendengar cerita Dewi.

Caca: “jangan keras-keras nanti pada dengar” bisik Caca ke Dewi dengan suara lirih.

Dewi pun mengangguk paham.

Akhirnya Caca membuka cerita tentang pengalamannya sendiri selama di kos itu.

 

Cerita versi Caca..

Suatu malam, Caca sedang sendirian di kos, karena pada saat itu sudah memasuki libur semester hari pertama, teman2 nya yg lain sudah berangkat terbang ke pulau masing2 untuk mengisi waktu libur semesternya di kampung halaman masing2.

Tinggal Caca yg belum berangkat terbang ke NTB karena kebetulan kehabisan tiket pesawat di hari itu, sehingga Caca tidak bisa berangkat di hari itu sama seperti teman2 nya yg lain.

Otomatis Caca bakal bermalam sendirian di kosan malam ini. Untuk menunggu jadwal penerbangan besok pagi sampai sore Caca lebih memilih untuk menghabiskan waktu di kos saja, untuk sekedar beristirahat karena besok harus melakukan penerbangan yg lumayan memakan waktu.

Tidak ada keanehan sebelumnya, hingga waktu malam pun tiba dan sudah menunjukkan pukul 11 malam.

Tiba-tiba…

BRUUAAKKKKKK!!

Ada suara benda jatuh.

Caca yg tadinya sudah terlelap pun sontak terbangun dari tidurnya karena kaget.

Dengan mata masih belum melek sempurna, Caca membuka pintu kamarnya dan mengecek benda apa yg barusan terjatuh seperti dari lantai atas ke lantai bawah.

Caca menyusuri area lantai bawah dengan harapan menemukan benda apa yg barusan terjatuh. Hasilnya nihil. Caca tidak menemukan benda apapun yg terlihat, dan bekas benda jatuh pun juga tidak ada.

Lantas Caca kembali lagi ke kamarnya untuk kembali tidur. Ketika Caca mulai memejamkan matanya, tiba-tiba ada suara ketukan samar-samar dari tembok sebelah Barat. Caca kaget dan kembali membuka matanya, juga memasang telinga untuk mendengarkan apakah tadi benar suara ketukan atau bukan.

Tp suara itu tiba-tiba hilang.

Caca kembali memejamkan matanya. Lagi-lagi ketukan itu muncul lagi dari arah yg sama semakin lama ketukannya semakin menunjukkan ritme ketuk yg sangat cepat dan keras.

Caca terbangun, dari sini Caca berfikir ini sudah tidak beres. Mana mungkin malam-malam begini ada orang yg mau iseng di kebun kosong.

Ketukan itu bukannya berhenti, semakin lama ketukan itu berubah menjadi suara tembok yg dipukul-pukul tangan secara keras dan cepat.

Caca mulai keluar keringat dingin dan merinding sejadi-jadinya. Caca ketakutan sekali malam itu.

Caca berfikir, itu pasti bukan manusia….

 

Bersambung ke Part 2 ya ~