Kisah Nyata Horor: Tinggal di Kost-Kostan Angker Sendirian (Part 3)

Tinggal di Kost-Kostan Angker Sendirian

Sebelumnya di: Tinggal di Kost-Kostan Angker Sendirian (Part 2)

Mita dinyatakan harus di rawat inap,

namun karena klinik tsb tidak melayani rawat inap scr lama, maka dr dokter diberi rujukan utk di rawat inap di RS DO.

Akan tetapi Dewi meminta agar malam ini saja biarkan Mita di rawat di klinik itu sementara, baru biar besoknya di bawa ke RS. Akhirnya dokter menyetujuinya.

Keadaan Mita masih sama, Mita masih menggigil kedinginan dan terus mengigau.

Mita: “pergi…tidak mau ikut..pergi”

Igauan Mita semakin menjadi-jadi… Dewi, Sara, dan Yesi pun bingung, apa lagi yg harus mereka lakukan selain menenangkan Mita



Akhirnya dokter menyarankan utk tetap tenang, biarkan Mita seperti itu dulu, itu efek dari panasnya yg tinggi, hingga dia seperti kehilangan setengah kesadarannya, kata dokter itu

Hal yg lumrah jika terjadi kpd orang yg mengalami demam tinggi.

Dokter : “biar obatnya bereaksi dulu, kalian yg tenang dan sabar”

Kalimat dokter cukup menenangkan Dewi, Sara, dan Yesi. 3 hari berlalu, dan Mita sekarang sudah berada di Rs DO.

Belum ada perubahan yg terjadi pada Mita, bedanya demamnya sudah turun, tetapi dia seperti masih kehilangan kesadarannya.

Mita masih mengigau

Siang ini, Mama dan Papa Mita akan sampai dr NTB ke rumah sakit, mereka khawatir akan kondisi Mita anak semata wayangnya.

Selama 3 hari di rumah sakit, Dewi dan teman yg lain bergantian menjaga Mita. Untung ada Andrew pacar Mita yg fulltime menjaga Mita di rumah sakit, sampai-sampai Andrew mengorbankan waktu kuliahnya untuk tetap merawat dan menjaga Mita di rumah sakit.

Mita tidak pernah mau makan, setiap makanan yg masuk selalu Mita muntahkan. Badannya semakin lemas, area bawah mata juga terlihat menghitam.

Orangtua Mita sudah datang, Dewi dan Andrew sepakat utk tidak menjaga Mita dulu malam ini.

Ketika Dewi dan Andrew akan berpamitan pulang, tiba2 Mita berteriak dan meronta2, badannya kaku, jari jemarinya seperti ingin mencengkram sesuatu, matanya melotot ke atas, Mita seperti orang kerasukan, dia terus berteriak dg suara yg berat

“bocah iki melu aku!!!” (anak ini ikut aku!!!)

Semua yg di ruangan kaget dan panik, Dewi menatap Andrew.

Dewi: “sejak kapan Mita bisa berbahasa jawa?”

Andrew terlihat bingung. Orangtua Mita berteriak memanggil suster, bingung dg apa yg terjadi, Mita tetap tidak bisa ditenangkan.

Dewi membantu dg melantunkan ayat2 Al-Qur’an, memijat jempol Mita sekuatnya. Tiba-tiba Mita pingsan, ya mungkin jin yg merasuki tubuh Mita sudah keluar.

Saat itu pula HP Dewi terus berbunyi, ternyata Sara yg menguhubungi Dewi.

Dewi mendapat kabar bahwa kondisi di kosam sedang kacau, semua ketakutan, dan yg paling membuat Dewi kaget dan bingung adalah Sara mengabarkan kalo Caca kerasukan.

“ASTAGHFIRULLAHALADZIM…!!”

Ujar Dewi setelah mendapat kabar itu, Dewi bergegas pamit dan langsung menuju kos.

Sesampai di sana, sudah ada beberapa warga yg membantu menenangkan teman2 kos, dan Caca juga sudah sadar dr kerasukannya.

Warga A: “hati-hati, Nduk”

Dewi: “iya, Pak”

Warga B: “ora aman wisan” (sudah tidak aman)

Dewi: “pripun Pak? (bagaimana pak?)

Warga A: “wis ora popo, kancamu wes sadar, sing penting dongo ojo kendat” (sudah tidak apa2, temanmu sudah sadar, yg penting doa jangan kendor)

Dewi: “nggih pak, matursuwun sanget” (iya pak, terimakasih sekali)

Warga pun mulai meninggalkan area kos.

Ketika Dewi melihat ke arah tangga yg menghubungkan ke lantai atas, lagi2 Dewi melihat sosok hitam bermata merah itu tengah berdiri tegap di tangga

“astaghfirullah, astagfirullah, astagfirullah” gumam Dewi lirih

Namun sosok itu hanya diam saja. Tidak menunjukkan ekspresi ingin menyerang, tiba-tiba sosok itu menghilang begitu saja.

“Alhamdulillah..” ucap Dewi lega

Dewi masih menenangkan situasi dan teman2nya..

Sara: “setiap malam kami semua tidur dalam satu kamar, Wi”

Dewi: “apa masih trauma dg kejadian itu?”

Sara: “kami takut, ke kamar mandi pun kami harus bergantian jaga dan pintu tidak pernah kami tutup”

Dewi: “tapi kalian baik-baik aja kan?”

Sara: “kami tidak mau ada kejadian lagi, apalagi sperti yg dialami Mita”

Dewi: “maksudnya?”

Sara: “kamu pasti tau, Wi. Mita itu ngga sakit medis kan, Mita itu diganggu jin, gara2 bakar rambut sembarangan malam itu”

Dewi: “memang kamu tau itu rambut siapa?”

Sara: “rambutnya jin”

Dewi: “haaaa???”

Sara: “Caca kerasukan, dan bilang kalau itu rambutnya jin, rambut petaka katanya”

Dewi terdiam sejenak mendengar ucapan Sara dg nada ketakutan.

Dewi: “ra beres (tidak beres)” gumam Dewi lirih

Hari berganti hari, situasi masih sama saja, hanya saja tidak ada kejadian yg di luar nalar lagi. Mita dibawa orangtuanya pulang ke NTB utk pengobatan alternatif di sana, terpaksa harus mengambil cuti kuliah.

Tapi pagi ini semuanya dilanda kepanikan.

Gaby: “kebakaran!! Kebakaran!!”

Teriakan Gaby membuat seluruh penghuni kos terbangun dr tidurnya pag-pagi buta ini.

Semua berhamburan ke sumber suara Gaby yg berteriak kebakaran. Kamar mandi lantai bawah yg berdempetan dg kamar Dewi terbakar atapnya, sepertinya ada konsleting dari lampu.

Semuanya panik, ada yg membuka gerbang, berlarian kebingungan, dg penuh keberanian Caca dan Dewi, masuk ke kamar mandi sebelahnya untuk mengambil air dalam bak lalu disiramkan ke sumber api, terus menerus di siramkan.

Akhirnya lama kelamaan api padam.

Apa jadinya kalo misal pagi itu tidak ada yg terbangun? Mungkin semuanya akan terpanggang hidup2 di dalam kos, terutama kamar Dewi yg paling dekat dengan sumber api.

Dewi bergidik ngeri.

Dewi lantas menghubungi Bu Karti tetapi WA tidak aktif, dihubungi by telp tidak diangkat2 dan tidak kunjung ada respon.

Akhirnya Dewi hanya mengirim pesan singkat via sms ke Bu Karti mengenai kebakaran yg barusan terjadi.

Dewi memandang semua teman2nya, mereka semua berekspresi bingung, melamun, shock, ada yg menitikkan air mata juga.

Dewi hanya bisa menenangkan mereka dg kalimat2 sederhana saja. Karena Dewi pun sebenarnya juga shock, tp Dewi mencoba menutupi agar seakan baik2 saja.

Keesokan paginya Dewi dibuat kaget dan bingung oleh semua teman2 kosnya.

Dewi: “loh Ca, mau kemana? Sara kamu juga mau kemana? kok semuanya pada kemas2 barang kalian? Ada apa ini?”

Semua penghuni kos pagi itu mengemasi semua barang perkakasnya, kecuali Dewi.

Sara: “kami mau pindah, Wi”

Dewi: “hah? Pindah? Kalian pindah kos?”

Sara: “iya, Wi, kami semua sepakat utk pindah saja dari sini, ayo kamu ikut sekalian”

Dewi: “kenapa kok mendadak begini?”

Sara: “udah gak betah, kejadian yg mistis sering menghantui kami, belum lagi kejadian kebakaran kemarin, itu bikin kami berpikir nyawa taruhannya, nyatanya sampai sekarang bu Karti tidak datang juga kan, sekedar ngecek pun tidak, suruh tukang kesini juga tidak,

Kami sudah konsultasi dg ortu kami masing2, jalan terbaik ya kami pindah dr sini, nyawa Wi taruhannya, kebakaran kemarin yg bikin trauma setengah mati, kalo Gaby ngga ke kamar mandi pagi itu, bagaimana? Semua akan terbakar habis, termasuk kita manusia di dalam kos ini”

Dewi mengangguk paham.

Caca: “kamu ngga ikut pindah Wi?

Dewi: “mungkin belum utk saat ini, belum ada pandangan mau kos di mana lagi”

Sara: “ayo ikut sekalian lah Wi, nyawa Wi nyawa, bu Karti itu ngga tanggung jawab sama keselamatan kita semua”

Dewi: “iya aku paham, tp belum sekarang, toh kan aku juga jarang di kos, aku hanya nempatin kos ini waktu mau tidur malam saja kan”

Sara: “yasudah kalo tidak mau ikut, kami tidak paksa, tp kamu hati2 ya di sini, kalo ada apa2 bisa WA kami”

Benar, pagi itu semuanya keluar dari kos Bulan, kecuali Dewi yg masih bertahan.

Dewi sedih, ada sedikit rasa cemas juga pada dirinya sendiri, jika terjadi sesuatu hal yg tidak diinginkan. Tetapi Dewi yakin, Dewi masih punya Tuhan.

Dewi sekarang sendirian di kos itu, hari berganti hari, Dewi sudah terbiasa dg kejadian2 ketukan, suara2 yg bermunculan setiap malam. Dewi terus berpikir positif.

Sampai suatu hari, bu Karti datang ke kos, kali itu bu Karti mencoba menghibur hati Dewi, agar Dewi tidak ikut pindah

Bu Karti bilang bahwa akan ada yg kos di sini lagi dr anak2 mahasiswa juga, pokoknya bu Karti selalu mengiming2i Dewi terus menerus, akan tetapi realitanya tidak pernah ada satupun orang yg hendak kos di kos Bulan.

 

Sudah 1 bulan Dewi menempati kos itu seorang diri.

Bu Karti datang lagi, kali ini dia memberi tau Dewi kalo akan ada yg nemanin Dewi di kos ini nanti sore akan datang, dia yg nantinya akan menjaga kos Bulan ini, sbg ganti bu Karti yg tidak pernah bisa menempati kos ini.

Sebut saja Bu Sum (samaran penjaga kos baru), wanita paruh baya yg bersedia menjual jasanya sebagai penjaga kos Bulan ini.

Sore itu beliau benar datang, sepulang dr Dewi kuliah agak sedikit kaget karena gerbang dalam keadaan terbuka.

Setelah Dewi masuk, ternyata benar, ada Bu Sum sedang sibuk menyapu area ruang tamu.

Bu Sum: “sampeyan mbak Dewi ya? Yg tinggal di kos ini di kamar itu mbak? Sy bu Sum yg dikasih mandat ibuk buat jaga kos ini”

Dewi: “iya betul bu sy Dewi, maaf sy belum bisa ngobrol banyak ya bu, ini sy buru2 mau keluar lagi, ada janji sama temen2 kampus sy bu”

Bu Sum: “oh nggih mbak mboten nopo2” (oh iya mbak tidak apa2)

Dewi pulang sehabis isya. Ketika memarkirkan motor, Dewi kaget karena di ruang tamu ada orang yg sedang duduk membelakangi Dewi. Setelah diamati ternyata itu bu Sum.

Dewi: “sy kira siapa bu, kaget sy”

Bu Sum tidak menjawab apa pun. Ia hanya membalas dg menolehkan wajah ke arah Dewi dan tersenyum lebar tetapi dg ekspresi kecut masam menyeringai.

Dewi lantas bergegas memasuki kamarnya utk segera beristirahat. Keesokan paginya bu Sum sudah terlihat sedang mengepel lantai. Dewi keluar kamar dan bergegas ke kamar mandi.

Ketika keluar dari kamar mandi,

Bu Sum: “mbak, ngapunten nggih, ndek dalu kulo mboten tilem mriki ngrencangi jenengan” (mbak, maaf ya, semalam sy tidak Tidur sini nemenin kamu)

Dewi: “nggih buk, mboten nopo2” (ya buk, tidak apa2)

Bu Sum: “soale ndek wingi sonten kulo bibar arisan trus nenggo mantu kulo ten rumah sakit mbak” (soalnya kemaren sore setelah arisan trus nunggu mantu sy di rumah sakit mbak)

Dewi: “tp jenengan pas isya’ ten mriki kan bu?” (tp Anda waktu isya’ di sini kan bu?)

Bu Sum: “mboten mbak, kulo sonten dugi enjing wau ten rumah sakit, niki kilo nembe dugi ten mriki mbak” (tidak mbak, sy sore sampai pagi tadi di rumah sakit, ini sy baru datang di sini mbak)

Dewi nampak berekspresi kebingunan, bu Sum tidak di kos malam tadi, lalu siapa yg duduk di ruang tamu semalam?

Bu Sum:wonten nopo to mbak? Kok malah mendel mawon?” (ada apa sih mbak? Kok malah diam saja?)

Dewi: “ah mboten nopo2 buk” (ah tidak apa2 buk)

Dewi bergegas masuk ke kamarnya sambil bergumam lirih.

Dewi: “asem, wes wani membo-membo menungso medi ne” (asem, sudah berani menyerupai manusia hantunya)

2 minggu berlalu, dalam kurun waktu ini, Dewi selalu memimpikan bu Sum.

Sudah 2x Dewi bermimpi tentang bu Sum yg meninggal dunia.

Tetapi Dewi masih tidak menggubris mimpi itu, bagi Dewi mungkin itu hanya bunga tidur saja.

Pagi hari Dewi hendak mandi, Dewi melihat 1 pintu kamar mandi tertutup rapat dan terdengar orang sedang mandi. Siapa lagi kalo bukan bu Sum batin Dewi. Dewi masuk ke kamar mandi sebelahnya, lantas mandi.

Selesai mandi, Dewi berpapasan dg bu Sum yangg sedang membawa handuk dan di sampirkan ke pundaknya.

Bu Sum: “mpun rampung mbak leh adus?” (sudah selesai mbak yg mandi?)

Dewi: “sampun bu” (sudah bu)

Bu Sum: “gantian aku sek adus mbak” (gantian sy yg mandi mbak)

Dewi kembali dibuat bingung lagi, Sambil mengamati bu Sum yg memasuki kamar mandi dan lalu terdengar lagi suara orang yg sedang mandi.

Dewi: “edan, wes ra beres tenan, ra aturan medi ne, esuk2 wes gawe wirangku” (gila, sudah tidak beres beneran, tidak punya aturan hantunya, pagi2 sudah buat aku bingung) Gumam Dewi.

Ketika hendak masuk kamar, sosok hitam tinggi itu lagi2 mewujudkan dirinya lagi di tangga.

“hmmmmm…hmmmm” eram sosok itu

Dewi: “ulahmu? Meh ngopo awakmu? Aku ora tau ganggu, tp kok di ganggu trus” (ulahmu? Mau apa kamu? Sy tdk oernah ganggu, tp kok diganggu trus)

Sosok itu menggeleng2kan kepalanya, seolah bukan dia yg melakukannya.

Dewi: “aku ora wedi, tp aku risi, karepmu piye? Wes ngaleh kono, ojo ganggu aku meneh” (sy tidak takut, tp sy risih, maumu gimana? Sudah pergi sana, jangan ganggu aku lagi)

“hmmmm…hmmm” eram sosok itu lagi

Tiba2 sosok itu menghilang begitu saja.

Dewi: “alhamdulillah..”

Dewi dan bu Sum sedang asyik mengobrol, tiba2

Bu Sum: “mbak, gak wedi to ning kene?” (mbak, ngga takut toh di sini?)

Dewi: “kenapa buk kok tanya gitu?”

Bu Sum: “aku wedi mbak, sepi nggone, wingi meh mateni ulo, tp moro2 ilang, sirahe enek koyo mutiara warnane biru” (sy takut mbak, sepi tempatnya, kemaren mau bunuh ular, tp tiba2 hilang, kepalanya seperti ada mutiara berwarna biru)

Dewi: “ulo buk? Saestu niku?” (ular buk? Beneran itu?)

Bu Sum: “iyo mbak, saestu, ulone ireng mencirit gedhi, ilang koyo siluman mbak” (iya mbak, beneran, ularnya hitam mengkilat besar, hilang seperti siluman mbak)

Dewi: “mungkin jelmaan buk, sy sebenarnya juga pengen pindah dr sini, tp belum sempat”

Bu Sum: “sampeyan kok yo wani wingi2 kuwi dewekan ten mriki mbak, ketok e nggone gawat ngene” (kamu kok ya berani mbak kemarin2 itu sendirian di sini mbak, kayanya tempatnya gawat begini)

Dewi: “di wanek2ne bu” (di berani2 kan bu)

Malam ini Dewi terbangun dari tidurnya karena mimpi buruk lagi. Lagi2 Dewi memimpikan bu Sum meninggal dunia.

Perasaan Dewi semakin tidak enak. Dewi beristighfar, semoga saja tidak ada pertanda buruk.

Sore hari saat sedang beristirahat di warung soto, Dewi dibuat shock oleh pesan WA dari anak bu sum, Galih..

 

Bersambung ke Part 4 ya ~