Kisah Nyata Horor: Tinggal di Kost-Kostan Angker Sendirian (Part 5)

Tinggal di Kost-Kostan Angker Sendirian

Sebelumnya di: Tinggal di Kost-Kostan Angker Sendirian (Part 4)

Tiba2 badan Dewi terasa panas, ya sangat panas, rasanya seperti berada dalam lingkup api yg membara.

Keringat Dewi bercucuran deras, sungguh rasa panas yg amat dahsyat, baru kali ini Dewi merasakan hal seperti ini.

Tak hanya itu, kepala Dewi pun terasa berat dan berputar-putar melawan arah jarum jam.

Ya, tanpa sadar Dewi seperti memutar-mutar kepalanya sendiri.

Dewi setengah sadar, Dewi melanjutkan kembali melafalkan ayat2 Al-Qur’an yg Dewi ketahui.

Jari jemari Dewi kaku, Dewi tetap mencoba sekuat tenaga untuk terus menjaga alam sadarnya.

Semakin melafalkan bacaan Al-Qur’an semakin panas tubuh Dewi.

Sampai terdengar

“DDUUUARRRRRRRRR!!!”



Suara petir menyambar dr arah barat kos malam itu tidak ada hujan sama sekali, tetapi ada suara petir menyambar.

Badan Dewi gemetar, perlahan panas yg dirasakan Dewi hilang, jari jemari Dewi sudah melemas dan bisa digerakkan lagi.

Saat Dewi duduk, Dewi memperhatikan kulit2nya memerah dan mengeluarkan asap.

“wes koyo dipanggang tenan” (sudah seperti dipanggang betulan) gumam Dewi.

Dewi terus beristighfar, lalu beranjak keluar kamar mengambil air wudhu untuk sholat malam.

Selesai sholat, hawa panas tiba2 berganti menjadi hawa sejuk, kulit2 Dewi yg sempat memerah juga sudah pulih.

Keesokannya Dewi menceritakan kejadian dahsyat itu kepada Bela.

Bela: “mbahayakne nyowomu dewe Wi” (membahayakan nyawamu sendiri Wi)

Dewi: “ngko bengi tulung kancani aku ya” (nanti malam tolong temani aku ya)

Bela: “hadehh, moh wedi aku” (hadehh, ngga mau takut aku)

Dewi: “please Bel”

Dengan wajah Dewi yg memelas, akhirnya Bela menyetujui ajakan Dewi.

Bela: “tapi nek nganti ono opo2 karo aku, titenono” (tapi kalo sampai ada apa2 dg ku, lihat aja)

Dewi: “siap”

Hari ini hari kamis, tepat malam jumat Dewi mengajak Bela utk menginap dikosnya.

Tengah malam mereka tiba di kosnya Dewi. Masuk gerbang Dewi bergegas ke kamar mandi utk sekedar cuci muka dan berwudhu. Memang sudah menjadi kebiasaan Dewi sedari kecil, jika tiap malam jumat dirinya harus wajib membaca surat Yasin.

Tp yg tidak biasa adalah ketika Dewi langsung masuk ke kamar mandi utk cuci muka itu, biasanya Dewi sll menaruh tas dll nya dulu ke kamar.

Berbeda dg Bela, sesampai di kosnya Dewi, Bela langsung bergegas masuk ke kamar Dewi dan segera merebahkan badannya.

Dewi sudah mengenakan mukena dan mulai membaca surat Yasin.

Tiba2 dari arah barat kamar Dewi terdengar suara sayup2 lirih, seperti suara Gendhing jawa yg dinyanyikan oleh seseorang.

“….njur kelingan anak lanang, mbiyen tak openi, ning saiki ono ngendi…”

Dewi dan Bela saling bertatap mata. Kemudian Dewi masih tetap melanjutkan bacaan Yasinnya.

Namun suara sayup2 itu terus menyanyikan lagu jawa itu, Bela lantas beranjak dari kasur dan langsung menuju samping Dewi dan memeluk Dewi dari samping.

Bela ketakutan, Dewi tetap tidak goyah, Dewi tetap melanjutkan bacaan Yasinnya.

Dewi mulai berkeringat dingin, sudah 3x Dewi melantunkan bacaan Yasin namun suara itu tidak kunjung hilang.

“iiiihhhhh ihhhhh ihhhhh…iihhhaaaahahahahaha”

Tiba2 nyanyian itu berubah menjadi suara tangisan dan juga berubah menjadi suara tawa yg khas dari mbak kunti

Ya itu persis suara mbak kunti.

Lama kelamaan suara itu pun semakin dekat, yg tadinya hanya berada di luar area kos, berpindah di area dalam kos, tepatnya seperti di area tangga kos yg menghubungkan lantai bawah dg lantai atas.

Bela: “Wiiii, suarane Wiii…”

Bela merintih ketakutan dg membisikkan kalimat itu terus menerus di telinga Dewi.

Namun Dewi masih diam saja, tidak menggubris ucapan Bela, Dewi masih terus melantunkan bacaan Yasin.

“iiiihhhhh iiihhhhhh ihhhhhhhh…”

“Nduk Dewiiii, iiihhhh iiihhhh iihhhhhh”

“ora tau nduwe wedi” (tidak pernah punya takut)

“iiihhhhh iiihhhh iihhhh”

“koncomu kuwii iihhhhh aaahaaaahhaaahaaa” (temanmu itu)

“keweden” (ketakutan)

“iihhhhaaaahaaahaa iihhh ihhhhh”

Suara itu terus tertawa tanpa henti.

Bela menangis, ketakutan.

Dewi maish tetap terus membaca surat Yasin, sudah ke 4x ini Dewi hampir menyelesaikan surat Yasin, hanya tinggal beberapa ayat, tiba2 suara dr mbak kunti tadi hilang seketika.

Sebelum hilang, “uwes Wi uwess, panas! Sikilku kobong, uwes Wiii mandheg!” (sudah Wi sudah, panas! Kakiku kebakar, sudah Wiii berhenti)

Perlahan suara tawa berubah menjadi suara tangisan, lama kelamaan suara itu hilang.

Dewi menyelesaikan bacaan surat Yasin yg tinggal beberapa ayat hingga tuntas.

Dewi: “alhamdulillahhirabbil’alamiiiiin”

Dewi tersandar lemas di bahu Bela. Dewi menitikkan air matanya.

Bela: “Wii, nangis o, aku ratau ruh awakmu nangis” (Wii, menangislah, aku tidak pernah lihat dirimu menangis)

Dewi: sedikit tersenyum dan mengusap pipinya “opo to Bel” (apa an Bel)

Bela: “wes rampung kan?” (sudah selesai kan?)

Dewi tidak menjawab pertanyaan Bela.

Dewi lantas beranjak dan melepas mukenanya ke tempat tidur, disusul Bela.

Masih dg perasaan yg tidak karuan, karena malam masih panjang pikir Dewi. Tidak ada yg berani keluar kamar malam itu.

Dewi: “untung aku wes nguyuh mau, pomo urung iso ngompol” (untung aku sudah pipis tadi, seumpama belum bisa ngompol)

Bela: “aku tak empet tekan esuk” (aku tahan sampai besok)

Dewi: “wes turu” (sudah tidur)

“hmmmmm hmmmmm hmmmmm”

Dewi mendengar suara eram an lagi, sontak Dewi langsung menyelimuti seluruh tubuh sampai kepalanya.

Bela: “opo meneh kuwi Wi?” (apa lagi itu Wi?)

Dewi: “wes meneng, ora sah di gagas” (sudah diam, tidak usah di gubris)

Dewi berharap sosok itu tidak menampakkan dirinya lagi.

Dewi sudah sangat lelah malam itu, berharap agar segera bisa lelap dalam tidur, akan tetapi susah sekali bagi Dewi untuk tidur malam itu.

“hmmmm hmmmmm ojo ganggu Dewi hmmmm hmmmm” (jangan ganggu Dewi)

Dewi mendengar ucapan sosok itu, dengan beribu pertanyaan dihatinya, sosok itu seperti sedang berbicara dg sosok lain, namun Dewi tidak bisa mendengar percakapan itu, Dewi hanya bisa mendengar kalimat itu dr sosok yg suaranya mirip dg sosok tinggi besar hitam yg pernah Dewi temui

Dan baru kali ini Dewi mendengar sosok itu mengucapkan kata selain suara “hmmmm” (eraman).

Dewi tetap tidak memberanikan diri untuk melihat apa yg sebenarnya terjadi di luar pintu kamar Dewi.

Dewi tetqp diam, dan rapat menutup seluruh tubuh dg selimutnya.

Keesokannya, Dewi dan Bela makan di kedai geprek,

Dewi: “golek kos anyar sek layak, larang sitik ora masalah sik penting uripku tentrem” (cari kos baru yg layak, mahal dikit ngga masalah yg penting hidupku tentram)

 

Singkat cerita, keesokan hari setelah kejadian malam itu, Dewi sudah benar2 tidak mau menginjakkan kakinya di kos Bulan.

Dewi memilih untuk segera pindah di tempat baru hari itu juga. Dari informasi yg Dewi dapat dari teman kampusnya, akhirnya Dewi menemukan kos baru, hari itu juga Dewi langsung menempati kos baru tersebut.

Kos yg baru penghuninya lebih padat, tempatnya terbuka, dan tidak kental dg aura mistis. Walaupun Dewi percaya, semua tempat pasti ada begitunya, tetapi tidak se ekstrim di kos yg sebelumnya.

Bagaimana dg barang2 Dewi yg masih utuh tertinggal di kos Bulan?

Dewi sengaja membiarkan semua barangnya di sana, dan Dewi juga masih rutin membayar sewa kos di kos Bulan itu pada bu Karti.

Dewi pindah, bu Karti pun tidak tau, krn Dewi memilih utk tidak memberitahunya.

Sampai kurun waktu 7 bulanan, Dewi baru membereskan seluruh barang2nya yg tertinggal di kos Bulan.

Itupun Dewi memilih menyewa jasa orang lain untuk membereskan semuanya, sekali lagi tanpa Dewi harus menginjakkan kakinya di kos Bulan itu.

Selama di kos baru, Dewi sudah tidak lagi mengalami kejadian2 aneh seperti di kos Bulan. Para lelembut itu sudah tidak lagi mengusik hidup Dewi.

Dewi adalah orang yg punya indra sensitif, sesekali Dewi juga diperlihatkan sosok2 yg ada di sekitar kos baru.

Namun mereka tidak pernah mengusik Dewi sama sekali. Dewi bersyukur bisa lepas dari itu semua.

erakhir kali Dewi berkomunikasi dg bu Karti via WA saat semua barangnya sudah beres dibersihkan dan dipindahkan dr kos Bulan dan sebagian di paketkan ke kampung Dewi.

Dewi sama sekali tidak menceritakan kejadian yg selama ini terjadi pada Dewi selama di kos Bulan itu.

Dewi memilih diam, karena Dewi pikir, bu Karti pun pasti sebenarnya tau, tp beliau lebih menutup rapat2 informasi kejanggalan kosnya itu.

Dewi hanya menceritakan kejadian itu kepada Bela sahabat karibnya dan orangtua Dewi di desa.

Dari informasi yg beredar, kos itu masih dibuka untuk siapapun yg mau kontrak/kos di sana, namun sampai saat ini kos itu belum laku juga, belum ada satupun orang yg mau menempati kos itu

Belum ada renovasi juga di kos itu, warga setempat bilang kalau kos itu sudah tidak pernah di urus lagi, dibersihkan pun tidak.

Diiklankan di media sosial pun, juha tidak laku2 kos itu.

Bu Karti juga sudah tidak pernah terlihat menyambangi kos itu.

Entahlah, kita kembalikan semuanya pada Tuhan Yang Maha Esa.

Sekian,

Salam horror!