Sepertinya Ada Yang Aneh Dengan Istriku

Sepertinya ada yang aneh dengan istriku

Sepertinya ada yang aneh dengan istriku, Sarah.

Semua dimulai ketika ia mulai melupakan namanya sendiri. Awalnya, ia tak pernah merespon ketika aku memanggilnya – ketika makan malamnya sudah siap ataupun ketika ia membutuhkan obat-obatnya. Tak lama kemudian, ia mulai merasa marah kapanpun aku menyebut namanya – berteriak ke arahku dan bersikeras bahwa namanya bukan Sarah.

Tentu saja, aku pikir ini gejala Alzheimer. Usia kami berdua memang sudah tua, namun Sarah selalu terlihat awet muda, jadi tak pernah terbersit sedikitpun di benakku bahwa kami akhirnya akan mengalami ini.

Sarah mulai menolak meminum obat-obatannya. Ia menutup rapat-rapat mulutnya ketika aku coba memberikannya kepadanya. Sarah selalu membenci dokter dan aku tak mau memberinya apa yang ia benci ketika kondisinya serapuh itu. Namun, tiap kali aku menyebut bahwa kita akan mengunjungi dokter, ia malah terlihat ceria. Sama sekali tidak seperti dia.

Ketika aku mengunjungi dokter untuk mendaftarkannya, sang resepsionis hanya menatapku. Ketika aku menceritakannya, ia hanya berkata bahwa yang kuperlukan ada psikiater. Istriku hanya sakit, dia tidak gila! Kurasa dokter tidak mau menolongnya karena istriku sudah tua dan tak ada apapun yang bisa ia lakukan untuk penyakitnya.

Dua hari lalu, saat aku berjalan menaiki tangga dan melihat Sarah berusaha membuka jendela dan melompat keluar! Apa yang ia pikirkan? Ia bisa membunuh dirinya! Untungnya, aku berhasil menghentikannya sebelum ia meloncat.

Pikiranku beralih ke sesuatu yang lebih gelap. Apakah Sarah kesurupan? Aku dan Sarah memang tak pernah taat beribadah. Mungkin itu sebabnya ia berperilaku aneh akhir-akhir ini. Aku meninggalkan pesan untuk pastur di sebuah gereja Katolik terdekat, namun mereka belum membalasku.

Hal terburuk terjadi tadi malam. Saat aku berusaha menenangkan Sarah – mengelus rambutnya dan mengatakan bahwa walaupun ia sedang sakit saat ini, aku akan selalu bersamanya untuk menjaganya. Ia menjadi histeris dan berteriak penuh kemurkaan dan makian ke arahku.

“Aku bukan istri k*p*r*tmu, b*j**g*n! Umurku 19 tahun! Istrimu sudah mati, dasar kau orang tua mesum!”

Aku tersentak. Aku menatap darah yang mengering di pergelangan tangan dan kakinya. Stigmata?

Astaga, aku harap gereja segera membalas teleponku. Aku takut ada iblis di dalam tubuhnya! Aku tahu luka-luka itu pertanda arwah jahat bersemayam di dalamnya.

Atau mungkin … apa kulonggarkan saja rantainya?